Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI Jateng Soroti Tiket Pesawat Domestik Mahal, Warga Pilih Liburan ke Luar Negeri

SEMARANG, KOMPAS.com – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, Heru Isnawan, menilai mahalnya harga tiket pesawat domestik menjadi salah satu penghambat pertumbuhan pariwisata dalam negeri. Heru mengungkapkan, kondisi ini membuat sebagian wisatawan justru memilih berlibur ke luar negeri. “Ada teman yang ke Medan malah lewat Kuala Lumpur dulu karena lebih murah. Ini sangat memprihatinkan,” kata Heru saat dikonfirmasi, Senin (5/1/2026).Menurut Heru, mahalnya tiket domestik disinyalir akibat minimnya kompetisi di sektor penerbangan. “Penerbangan kita dikuasai segelintir pihak, sehingga harga bisa diatur,” ujarnya. Baca juga: Tiket Pesawat Domestik Mahal, Banyak Warga Pilih Wisata ke Luar Negeri Ia pun mendorong pemerintah untuk turun tangan melalui regulasi agar tercipta persaingan yang lebih sehat. “Kalau akses mudah, murah, dan cepat, dampak ekonominya ke daerah destinasi wisata pasti besar,” tegasnya. Warga Pilih Liburan ke Luar Negeri Salah satu karyawan swasta, Fauzi (29), memilih liburan ke luar negeri ketimbang ke luar Pulau Jawa setelah melihat harga tiket pesawat yang tak jauh berbeda. Dengan tiket seharga Rp1,5 juta, dia sudah dapat pergi ke Jepang. Sementara, harga tiket domestik harganya berkisar Rp 1 juta. “Tiket pesawat ke luar negeri, apalagi kalau masih di Asia Tenggara dan Asia Timur, sekarang relatif lebih murah dan worth it daripada harus beli harga tiket yang sama buat wisata dalam negeri," katanya. Baca juga: Mau Liburan ke Luar Negeri? Ada 73 Negara yang Bebas Visa untuk WNISelain itu, ia juga menilai akses transportasi publik di Indonesia juga belum terkoneksi dengan baik. "Belum lagi akses transportasi publik di Indonesia rata-rata belum bagus dan bikin boros, tidak seperti di Jepang, Singapura, atau Kuala Lumpur sudah terkoneksi semua,” imbuhnya. Hal senada juga sidampaikan Ulin (37), warga lainnya. Ia mengaku mengurungkan niatnya berlibur ke Pekanbaru lantaran harga tiket pesawat untuk perjalanan pergi dan pulang dari Semarang mencapai Rp3,5 juta. “Harga segitu bisa ke Thailand, jadi ini rencana berubah liburan ke Thailand. Aslinya saya suka eksplor alam dan tempat bersejarah, ingin banget ke Indonesia Timur, tapi mengurungkan niat keliling Indonesia karena tiket mahal, mending ke luar negeri saja,” ujar Ulin. Dia membeberkan, kondisi tiket pesawat yang mahal itu sudah dirasakan sejak 2023, saat dia melakukan dua perjalanan di waktu berbeda, yakni ke Medan dan ke Kuala Lumpur. “Jogja ke Medan sekali jalan Rp1,5 juta, saya terpaksa beli karena ada acara. Ketika pulang dari Medan, diinformasi teman Jogja-Kuala Lumpur (KL) cuma Rp1,2 juta sudah pulang pergi (PP). Terus, tiga bulan kemudian liburan seminggu di KL cuma habis Rp3,5 juta semuanya,” tuturnya. Baca juga: Perjuangan Aliri Listrik di Daerah Perbatasan RI, Mobil Terjebak di Lumpur hingga Tiket Pesawat Sulit Lebih lanjut, dia menceritakan saudara di Medan belakangan membuat paspor sekeluarga agar pulang ke Yogyakarta bisa melalui rute Kuala Lumpur terlebih dahulu karena jauh lebih hemat. “Bahkan teman saat Natal ke Maluku sama suaminya setelah 17 tahun tidak pernah pulang kampung, tiket pesawat habis Rp10 juta PP. Karena dia tidak punya uang, dia harus paylater,” lanjutnya. Ulin berharap tiket penerbangan domestik dapat lebih terjangkau agar semua masyarakat memiliki kesempatan luas untuk mengeksplor Indonesia. “Kalau mahal, pekerja dengan gaji UMR tidak punya kesempatan, apalagi kita maunya piknik kan murah, bagus, dan menyenangkan,” imbuhnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang