Okupansi Hotel Malang Raya Saat Nataru MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Okupansi hotel-hotel di Malang Raya tak menunjukkan tren positif. Rata-rata okupansi hanya bergerak di angka 70-80 persen saja. Bahkan ada yang di bawah itu 60-70 persen. Nyaris okupansi tak pernah tembus 100 persen dalam momen liburan, termasuk Natal dan Tahun baru 2026 lalu. “Sampai hari libur terakhir akhir tahun kemarin, rata-rata okupansinya di 80 persen. Ada beberapa hotel yang sampai 90 persen juga. Tetapi ada juga yang hanya 60 sampai 70 persen,” papar Agoes Basuki Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kota Malang kepada Malang Posco Media saat dikonfirmasi, Senin (5/1) kemarin. -Advertisement- -Advertisement- Diketahui jumlah kamar hotel di Kota Malang berada di kisaran 4.000-an kamar. Maka di libur Natal 2025 hingga libur akhir tahun lalu, sekitar 3.000-an kamar hotel terokupansi. Yang didominasi wisatawan domestik yang memilih Malang Raya sebagai tujuan wisata akhir tahun. -Advertisement- Meski begitu, presentase okupansi ini dikatakan tidak meningkat dibandingkan tahun lalu. Karena pada periode yang sama pada masa libur akhir tahun 2024 lalu, rata-rata persentase okupansi hotel di Kota Malang juga berada di angka 80 persen. “Sama dengan sebelumnya,” papar Agoes. Stagnansi tingkat hunian hotel di High Season seperti akhir tahun dikarenakan beberapa hal. Salah satunya kondisi cuaca akhir tahun yang diprediksi hujan, membuat warga akan memilih stay di rumah. Tidak hanya itu, PHRI Kota Malang juga memprediksi adanya penurunan daya beli masyarakat sepanjang 2025. Yang menyebabkan warga ingin “berhemat” dan memilih tidak stay di hotel. “Tetapi angka 80 persen menunjukan kondisi yang baik. Karena beberapa hotel ada juga yang hampir full booked,” pungkas dia. Di Kota Batu, okupansi hotel mengalami penurunan. Itu disebabkan daya beli masyarakat yang menurun dan banyaknya pilihan destinasi wisata. Akibatnya okupansi hotel di Kota Batu pun anjlok saat libur Nataru 2026 kemarin. “Rerata okupansi mencapai 70 persen saja saat malam tahun baru kemarin. Jumlah tersebut turun 20 persen dari tahun kemarin,” ujar Sujud Hariadi Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu. Mengacu data yang dimiliki PHRI Kota Batu, pergantian tahun dari 2024 ke 2025 lalu jumlah okupansi hotel di Kota Batu sampai menyentuh angka 90 persen. Bahkan tingkat keterisian tersebut tidak hanya dialami hotel-hotel di Batu saja, namun hampir menyeluruh di Indonesia. “Untuk penyebabnya penurunan karena banyak faktor. Mulai daya beli masyarakat yang masih belum membaik, daerah lain juga membangun pariwisata mereka. Dampaknya semakin banyak pilihan bagi wisatawan dalam liburan malam tahun baru,” terangnya. Tidak hanya itu, ada faktor lain yang membuat okupansi hotel di Kota Batu lesu juga dikarenakan semakin banyaknya pilihan akomodasi selain hotel. Di antaranya semakin banyaknya vila, homestay dan juga penginapan lainnya. “Di sisi lain kondisi perekonomian saat ini juga sedang tak baik-baik saja dan membuat masyarakat memilih untuk berwisata tanpa menginap. Sehingga itu berpengaruh pada okupansi hotel serta kunjungan wisatawan ke Kota Batu,” ungkapnya. Sementara data Dinas Pariwisata Kota Batu mencatat hasil rekap sampai 2 Januari 2026 untuk kunjungan wisatawan di akomodasi sejumlah 1.034 atau okupansi harian 48,87 persen. Jumlah tersebut didapat dari 91 jasa usaha akomodasi/hotel.(ica/eri/den/lim)