Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi Hotel di Kota Batu Lesu Saat Malam Tahun Baru 2026, Ini Penyebabnya

KabarBaik.co – Tingkat hunian hotel di Kota Batu pada malam pergantian Tahun Baru 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan melemahnya minat wisatawan untuk menginap di hotel, meskipun kunjungan wisata selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) terpantau padat. Padatnya arus wisatawan terlihat dari kemacetan di sejumlah jalur utama dan kawasan wisata. Namun, tingginya mobilitas tersebut tidak berdampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel di Kota Batu. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, membenarkan bahwa okupansi hotel saat malam tahun baru tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku usaha. “Perkiraan awal bisa mencapai 90 persen, tetapi realisasinya justru rendah, hanya di kisaran 48 sampai 50 persen. Kalau bisa tembus 60 persen saja sudah jarang,” ujar Sujud, Senin (5/1). Menurut Sujud, tingkat hunian hotel pada malam Tahun Baru 2026 menjadi yang terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Secara rata-rata, okupansi hotel di Kota Batu hanya berada di kisaran 70 persen, atau turun sekitar 20 persen dibandingkan akhir tahun 2024 yang sempat mencapai 90 persen. Sujud menjelaskan, penurunan okupansi hotel dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, banyaknya daerah yang kini mengembangkan destinasi wisata baru turut memecah konsentrasi kunjungan wisatawan. “Hampir semua daerah sekarang berlomba mengembangkan pariwisata. Pilihan wisata semakin beragam, sementara kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih,” jelasnya. Penurunan tingkat hunian hotel, lanjut Sujud, tidak hanya terjadi saat libur Nataru, tetapi berlangsung sepanjang tahun 2025. Secara year on year, pendapatan hotel di Kota Batu tercatat turun hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Kota Batu ramai di pagi hingga siang hari, tetapi cenderung sepi pada malam hari. Banyak wisatawan memilih datang tanpa menginap,” katanya. Ia menambahkan, fenomena penurunan okupansi hotel juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia, sehingga kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai tren nasional. Selain faktor ekonomi, menjamurnya akomodasi nonhotel seperti vila, homestay, dan penginapan berbasis rumah warga turut memengaruhi tingkat hunian hotel. “Perbaikan infrastruktur jalan juga membuat wisatawan memilih datang pagi dan pulang sore tanpa menginap,” tandasnya. (*) Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini Penulis: P. PriyonoEditor: Hairul Faisal