Fenomena menjamurnya vila dan homestay yang diduga beroperasi secara ilegal di Bali kini menjadi sorotan tajam. Praktik ini disinyalir melibatkan oknum turis asing dan menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku industri perhotelan resmi di Pulau Dewata. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menegaskan bahwa persoalan ini bukan hal baru, namun dampaknya semakin terasa signifikan. Ia mengindikasikan adanya keterlibatan kuat oknum asing dalam kepemilikan maupun pengelolaan akomodasi yang tidak tercatat resmi. Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id Modus Operandi dan Kerugian Pajak Rai Suryawijaya menjelaskan modus yang digunakan para oknum tersebut. “Iya emang disinyalir ada juga akomodasi seperti vila-vila itu, guesthouse yang dimiliki orang asing, itu oknum-oknum juga ada yang ilegal. Artinya begini, dia dapat menyewa, misalnya nih orang asing nyewa guesthouse kemudian dia sewakan lagi ke tamu-tamunya melalui online,” ujarnya kepada tim redaksi Mureks, Jumat, 09 Januari 2026. Praktik ini secara langsung merugikan negara dari sisi penerimaan pajak. “Nah ini kan dia akhirnya tidak membayar pajak ya karena reservasi yang dilakukan pemesanan kamar melalui online kemudian pembayarannya pun melalui rekeningnya masuk ke bank yang ada di luar negeri kan. Jadi gimana kita bisa mengenakan pajak,” tambah Rai. Persaingan Tidak Seimbang dan Perubahan Perilaku Wisatawan Keberadaan akomodasi ilegal ini menciptakan persaingan yang tidak sehat bagi hotel dan penginapan resmi yang patuh terhadap regulasi dan kewajiban pajak. Rai Suryawijaya memprediksi persaingan di tahun 2026 akan semakin ketat, baik dari internal maupun eksternal. “Yang jelas persaingan akan lebih ketat di tahun 2026 ini. Jadi tantangannya juga akan lebih keras. Jadi kalau kita tidak mempunyai strategic plan yang jitu ya, ya itu akan kalah dalam berkompetisi baik internal maupun eksternal nanti,” tegasnya. Menurut pantauan Mureks, perubahan perilaku wisatawan pascapandemi juga turut memengaruhi dinamika ini. Setelah periode pembatasan yang panjang, wisatawan cenderung memiliki dorongan berlibur dan daya belanja yang tinggi. Namun, kondisi saat ini berbeda. “Iya waktu pasca pandemi kan mereka semua orang ingin berwisata ya. Jadi apalagi yang punya-punya duit kan? Sudah dua tahun misalnya di rumah, terkekang begitu kan karena pandemi begitu pasca pandemi banyak yang berwisata dia spending-nya cukup tinggi. Dan sekarang untuk tahun ini kan mereka juga berpikir-pikir ya, pasti juga melirik destinasi lain gitu,” kata Rai. Saat ini, komposisi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali didominasi oleh segmen menengah ke bawah yang lebih sensitif terhadap harga. “Nah yang kedua juga adalah wisatawan yang datang ini kebanyakan menengah ke bawah. Sehingga dia menyasar penginapan-penginapan yang sesuai dengan isi kantongnya mereka. Jadi banyak yang nginep di vila-vila, guesthouse, apartemen. Jadi sebagian saja yang nginep di hotel-hotel berbintang,” pungkas Rai.