KILASJAIM.COM, Batu – Kinerja sektor pariwisata dan perhotelan di Kota Batu sepanjang tahun 2025 mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024. Penurunan tersebut terjadi hampir merata di berbagai segmen dan dipicu melemahnya daya beli masyarakat. Ketua DPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa secara tahunan (year on year) tingkat hunian hotel mengalami penurunan cukup signifikan. Rata-rata penurunan okupansi berada di kisaran 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Jika dilihat secara year on year, sepanjang 2025 memang terjadi penurunan yang cukup signifikan dibandingkan 2024. Rata-rata penurunannya sekitar 20 sampai 30 persen,” ujar Sujud, Sabtu (10/1/2026). Menurutnya, sektor perhotelan merupakan industri yang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi. Layanan menginap di hotel umumnya bukan kebutuhan utama masyarakat, melainkan kebutuhan sekunder hingga tersier yang erat kaitannya dengan aktivitas wisata. “Kecuali untuk kepentingan tertentu seperti perjalanan dinas yang mengharuskan menginap, sebagian besar tamu hotel datang untuk rekreasi. Ketika daya beli turun, belanja untuk kebutuhan semacam ini langsung dikurangi,” jelasnya. Sujud menambahkan, melemahnya daya beli masyarakat juga tercermin pada sektor ritel sepanjang 2025. Konsumsi di berbagai lini usaha mengalami koreksi hingga puluhan persen, yang menunjukkan tekanan ekonomi dirasakan secara luas. “Kondisi ini bukan hanya dirasakan hotel. Di sektor ritel juga terlihat jelas penurunan daya beli masyarakat dalam jumlah yang cukup besar,” katanya. Lebih lanjut, Sujud menyinggung data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mencatat adanya perlambatan penjualan mobil. Di sisi lain, penjualan sepeda motor justru menunjukkan tren peningkatan. “Fenomena ini menguatkan bahwa masyarakat sedang menahan belanja besar. Mobil turun, motor naik. Artinya tekanan daya beli memang nyata,” pungkasnya.(TQI) Post Views: 326