Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI: Cuaca Ekstrem Tekan Okupansi Hotel Saat Libur Nataru

Tangerang, Beritasatu.com - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menjadi tantangan terberat yang menyebabkan rendahnya tingkat okupansi hotel dan restoran selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, kondisi cuaca yang tidak bersahabat berdampak signifikan terhadap pergerakan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sehingga aktivitas pariwisata tidak tumbuh optimal. “Wisatawan nusantara yang kita harapkan bisa bergerak ke berbagai daerah, guna menggeliatkan ekonomi. Nah, itu yang kita khawatirkan kan dari Pulau Jawa bagaimana? Menyeberang ke Sumatera atau Bali? Nah, ini kan bahaya,” ujar Yusran dalam The Forum: B-Universe Focus Group Discussion (FGD) di HQ B-Universe PIK2, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/1/2026). Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menyiapkan berbagai stimulus pariwisata selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) guna mendorong pergerakan ekonomi. Namun, cuaca ekstrem dinilai menjadi faktor penghambat utama realisasi dampak positif kebijakan tersebut. “Nah, begitu pemerintah memberikan insentif itu bukan tidak ada alasan, tetapi juga adalah salah satu tujuannya untuk lebih meningkatkan perekonomian, misalnya insentif dari tol, kemudian diskon pesawat, juga ada traveler. Bahkan, Menko Perekonomian Airlangga mengatakan bahwa bisa work from anywhere atau work from home,” jelas Yusran. “Nah, ini sebenarnya sudah menjadi harapan besar sih, agar libur Nataru itu bagi kami di sektor akomodasi, dengan harapan ini pasti akan terjadi peningkatan yang cukup baik, walaupun ada bencana di Sumatera,” sambungnya. Lebih lanjut, Yusran menyebut peningkatan okupansi hotel dan restoran hanya terjadi pada momen tertentu, yakni 25 dan 31 Desember 2025. Kondisi tersebut meleset dari pola tahun-tahun sebelumnya, di mana tingkat hunian biasanya meningkat sepanjang sepekan menjelang pergantian tahun. “Itu pun, okupansinya enggak banyak. Cuman berkisar 70%-80%. Jadi enggak ketemu itu yang namanya high season. Karena kalau kami orang hotel itu ya, sama dengan airlines. Kita itu dinamis,” imbuh Yusran. Ia menegaskan, ketidakpastian cuaca menjadi faktor krusial yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian, sehingga sektor perhotelan dan restoran belum sepenuhnya merasakan manfaat periode libur panjang Nataru. PHRIOkupansi HotelNataruCuaca EkstremThe Forum B-UniverseFGD B-Universe