Ringkasan Berita: PHRI Kota Malang menyambut positif kehadiran becak elektrik sebagai moda transportasi wisata baru di Kota Malang. Menurut Agoes Basoeki, agar becak elektrik benar-benar menjadi daya tarik wisata, para pengemudi perlu dibekali pengetahuan pelayanan dasar. Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki menekankan pentingnya pembinaan pengemudi becak agar profesional, termasuk larangan meminta tip kepada wisatawan. SURYAMALANG.COM, MALANG – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang menyambut positif kehadiran becak elektrik sebagai moda transportasi wisata baru di Kota Malang. Namun, PHRI menilai pemanfaatan becak elektrik harus diiringi dengan penataan rute, peningkatan kapasitas pengemudi, serta penetapan tarif yang jelas agar benar-benar mendukung sektor pariwisata. Baca juga: Bantuan Becak Listrik di Kota Malang Bakal Berlanjut Hingga 2027, Kini Sudah Tersalur 200 Unit Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan saat ini pemanfaatan becak untuk tamu hotel sudah ada, meski belum dominan. Biasanya, pihak hotel yang menghubungi tukang becak jika ada pesanan. Agoes menjelaskan, wisatawan yang biasanya pesan becak tidak sekadar wisatawan asing, wisatawan lokal juga tertarik. Di Hotel Shalimar, tempat Agoes bekerja, perbandingan wisatawan asing dengan lokal yang datang yakni 20:80 persen. “Ada, tapi tidak terlalu banyak. Perbandingannya 20-80, pihak hotel mencarikan, tapi banyak juga tamu yang mencari sendiri,” ujar Agoes, Kamis (22/1/2026). Baca juga: 200 Tukang Becak di Kabupaten Malang dapat Becak Listrik dari Presiden Prabowo Perlu Penataan Menurut Agoes Basoeki, agar becak elektrik benar-benar menjadi daya tarik wisata, para pengemudi perlu dibekali pengetahuan pelayanan dasar, mulai dari cara melayani tamu, berpakaian rapi, hingga penguasaan destinasi wisata. PHRI bahkan mengusulkan agar dibuatkan rute khusus becak wisata lengkap dengan tarif resmi. “Misalnya dari hotel ke Pasar Oro-oro Dowo, lanjut ke Kayutangan, lalu ke Dinoyo atau pusat kuliner. Dibuatkan rute. Kalau bisa, harganya sudah ditarifkan, jadi tidak ada tawar-menawar,” jelasnya. Agoes menekankan pentingnya pembinaan pengemudi becak agar profesional, termasuk larangan meminta tip kepada wisatawan. Menurutnya, keberadaan paguyuban becak akan memudahkan koordinasi internal maupun komunikasi dengan hotel dan pemerintah. “Kalau ada paguyuban, antar tukang becak bisa terkoordinir. Kalau ada apa-apa juga mudah dihubungi. Pengemudi juga harus dibekali informasi tempat wisata,” katanya. PHRI juga menilai becak listrik memiliki keunggulan karena bisa menjangkau berbagai sudut kota dan cocok untuk wisata kota (city tour). Bahkan, pihak hotel siap mendukung secara teknis.