Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI Tolak Penghapusan Opsi Transit di OTA

JAKARTA, NusaBali - Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menolak wacana penghapusan pencarian penerbangan transit di platform online travel agent (OTA) ketika tiket penerbangan langsung sudah habis. Kebijakan tersebut dinilai justru merugikan konsumen dan tidak menyelesaikan persoalan mahalnya harga tiket pesawat. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, pembatasan opsi transit berpotensi menghilangkan alternatif perjalanan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. “Wacana agar OTA tidak lagi mengalihkan pencarian ke penerbangan transit ketika penerbangan langsung habis justru merugikan konsumen,” ujar Maulana, Jumat (23/1).Menurut Maulana, OTA hadir sebagai platform digital yang membantu konsumen merancang perjalanan sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran. Menutup opsi transit dinilai bertentangan dengan semangat digitalisasi yang memberikan keleluasaan dan transparansi pilihan bagi pengguna.Ia menegaskan, penghapusan rute transit tidak akan menekan harga tiket pesawat secara efektif. Pasalnya, rute dan harga bukan ditentukan oleh OTA, melainkan oleh maskapai penerbangan melalui sistem mereka. “OTA itu tidak membentuk rute dan tidak membentuk harga. Itu semua dibuat oleh sistem maskapai,” katanya.Maulana menambahkan, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan geografis yang tidak bisa disederhanakan dengan menutup akses pencarian penerbangan. “Traveling ke ujung Sumatera atau ke Indonesia Timur memang mahal, itu fakta. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan,” ujarnya.PHRI juga mengingatkan, kebijakan tersebut berisiko memperburuk konektivitas daerah-daerah yang selama ini sudah menghadapi keterbatasan akses transportasi. Penutupan opsi transit justru dikhawatirkan membuat sejumlah wilayah semakin terisolasi dari arus wisatawan.Ia mencontohkan kondisi konektivitas ke Aceh, yang dalam praktiknya kerap lebih mudah diakses melalui penerbangan transit luar negeri. “Sekarang orang mau ke Aceh harus transit ke Kuala Lumpur. Itu fakta. Bahkan dari Sumatera lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Jakarta,” ungkapnya.Dalam konteks itu, Maulana menilai menutup opsi transit di OTA bukan solusi, melainkan berpotensi memperparah ketimpangan akses antarwilayah. Menurutnya, transparansi informasi justru penting agar konsumen dapat mengambil keputusan perjalanan secara rasional.PHRI pun mendorong pemerintah untuk mengevaluasi faktor-faktor yang membuat tiket penerbangan domestik mahal, mulai dari biaya operasional hingga kebijakan sektor aviasi. “Masalahnya bukan di OTA. Yang harus dievaluasi itu apa yang membuat tiket domestik mahal, bukan menutup informasinya,” pungkas Maulana. 7ant