TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wisatawan asal Pulau Sumatera yang selama ini menyumbang sekitar 10–15 persen kunjungan wisata ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) praktis tidak terlihat pada awal 2026. Hal itu menyusul banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak November 2025. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan kontribusi wisatawan dari Sumatera dalam kondisi normal tergolong signifikan dibandingkan daerah lain. Karena itu, terhentinya arus wisata dari wilayah tersebut langsung berdampak pada kinerja sektor pariwisata di Yogyakarta. “10 sampai dengan 15 persen itu dari Sumatera, dan itu tinggi sekali. Jadi kalau kemudian dari sana tidak ada pergerakan wisatawan, tentu dampaknya terasa langsung ke tingkat hunian hotel dan aktivitas pariwisata di Jogja,” ujar Deddy. Deddy menjelaskan, banjir besar yang terjadi sejak November 2025 membuat kunjungan wisatawan asal Sumatera hampir sepenuhnya berhenti, terutama pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Padahal, momentum tersebut biasanya menjadi salah satu puncak kunjungan wisata ke DIY. “Biasanya dari Padang itu sering datang ke sini. Tapi kemarin benar-benar nol. Pada libur Natal dan Tahun Baru kemarin tidak ada wisatawan dari Sumatera yang datang ke Jogja,” katanya. Baca juga: Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul, Spot Wisata Alam yang Viral di Kalangan Muda-mudi Menurut Deddy, pelaku industri perhotelan di DIY sebenarnya telah berupaya menarik kembali wisatawan dari Sumatera melalui berbagai program promosi dan penawaran khusus. Namun, kondisi bencana alam di daerah asal wisatawan membuat upaya tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan. “Ya Bismillah, harapan kita semoga bencana-bencana itu sudah enggak ada. Karena bencana itu juga menurunkan okupansi. Orang tentu lebih fokus memulihkan kondisi di daerahnya masing-masing,” ujarnya. Fase Low Season Memasuki periode pasca-Nataru, sektor pariwisata DIY kini kembali berada dalam fase low season yang berlangsung sejak pertengahan Januari hingga awal Maret. Meski demikian, Deddy menilai tingkat hunian hotel di Yogyakarta masih berada pada level yang relatif aman. Pada periode tersebut, tingkat okupansi hotel di DIY tercatat berada di kisaran 50 hingga 60 persen. Angka ini dinilai masih cukup baik jika dibandingkan dengan sejumlah daerah lain, terutama di luar Pulau Jawa.