Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Strategi "Iftar Tematik" Jadi Senjata Hotel di Kota Batu Dongkrak Okupansi Ramadan 2026

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, H. Sujud Hariadi, SE,. (Foto: Fur/kabarjagad) Kabarjagad, Kota Batu – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026 yang tinggal menghitung hari, geliat industri pariwisata di Kota Batu mulai memanas. Meski periode Ramadan biasanya menjadi tantangan bagi bisnis akomodasi karena menurunnya angka kunjungan menginap dan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), para pelaku perhotelan di Kota Wisata ini tidak tinggal diam. Tahun ini, promosi paket buka puasa bersama atau Iftar kembali menjadi “napas buatan” sekaligus strategi andalan untuk menjaga arus pendapatan (revenue) hotel di tengah lesunya permintaan kamar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, H. Sujud Hariadi, SE, mengungkapkan bahwa program Iftar adalah agenda tahunan yang krusial. Menurutnya, pada bulan Ramadan, aktivitas korporat maupun instansi pemerintah seperti rapat kerja, gathering, hingga pesta pernikahan hampir tidak ada. “Sulit menjual hotel di bulan Ramadan. Kegiatan meeting dari perusahaan maupun pemerintah itu jarang sekali, bahkan acara tunangan atau pernikahan pun kosong. Maka, salah satu tumpuan kami adalah melalui program Iftar agar hotel tetap memiliki pemasukan, meski memang tidak sebesar saat ada acara besar,” ujar Sujud saat memberikan keterangan pers, pada Jum’at (6/2). Saat ini, PHRI Kota Batu tengah mendata daftar program Iftar dari puluhan hotel di bawah naungannya. Sujud memprediksi akan ada 30 hingga 40 hotel yang berpartisipasi tahun ini. Masing-masing properti hadir dengan konsep unik untuk menarik minat masyarakat. “Teman-teman hotel sangat kreatif. Mereka mengusung tema-tema khusus, mulai dari nuansa otentik Timur Tengah hingga cita rasa Asia seperti kuliner India. Semuanya disesuaikan dengan karakter dan keahlian tim dapur (F&B) masing-masing hotel,” tambahnya. Terkait harga, masyarakat memiliki banyak pilihan yang menyesuaikan kantong: * Kelas Ekonomis: Mulai dari Rp79.000 hingga Rp80.000 per orang (umumnya untuk hotel bintang tiga). * Kelas Premium: Berkisar antara Rp200.000 hingga Rp250.000 per orang (untuk hotel bintang lima dengan menu lebih mewah). * Promo Grup: Mayoritas hotel menawarkan sistem “Buy 10 Get 1” atau potongan harga khusus untuk reservasi rombongan di atas 10 orang. Sujud mengakui ada kenaikan harga sekitar 10% dibandingkan tahun lalu. Hal ini tidak terlepas dari penyesuaian biaya operasional akibat kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) dan harga bahan baku di pasar. “Kenaikannya tipis, sekitar 10 persen. Kami harus realistis karena semua biaya operasional juga naik. Namun, kami pastikan kualitas menu dan pelayanan tetap terjaga,” tegasnya. Mengingat beberapa hotel memiliki keterbatasan ruang atau kapasitas restoran yang kecil namun memiliki daya tarik view pegunungan yang indah, PHRI mengimbau masyarakat untuk melakukan reservasi lebih awal. “Kami sudah mulai launching dan promosi sekarang, sekitar 10 hari sebelum puasa. Jadi, saat hari pertama Ramadan tiba, tamu sudah bisa langsung masuk. Karena banyak tempat yang kapasitasnya terbatas namun diminati karena pemandangannya, sistem reservasi menjadi wajib agar tamu tidak kecewa saat datang,” pungkas Sujud. Meski instansi pemerintah kini lebih leluasa mengadakan acara buka bersama, Sujud memprediksi motor utama Iftar tahun ini tetap didominasi oleh sektor korporat swasta, komunitas, dan reuni keluarga. (Fr) Post Views: 26