Jakarta - Di tengah arus perekonomian yang tidak stabil ini, sektor pariwisata Indonesia pun masih tak bisa dikatakan stabil. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sebut aksesibiltas dan promisi hal wajib untuk dilakukan.Dalam konferensi pers Rekernas PHRI di Semarang, Selasa (10/2/2926). Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani, menyampaikan ada beberapa kebijakan yang perlu dilakukan untuk membuat sektor pariwisata Indonesia terus berkembang. SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Aksesibilitas dan promosi menjadi hal mutlak untuk memberdayakan sektor ini. "Jadi yang paling kita butuhkan aksesibilitas. Kemudahan dan juga biaya yang terjangkau untuk pergerakan wisatawan dari satu tempat ke tempat lain itu mutlak kita perlukan," katanya dalam sesi konferensi pers secara daring yang diikuti detikTravel.Selain aksesibilitas yang ia kemukakan, promosi juga menjadi langkah lainnya untuk terus membuat sektor pariwisata Indonesia bisa stabil. PHRI bersama pihak-pihak lainnya di industri pariwisata terus mendorong untuk adanya kolaborasi.Karena jika hanya bertumpu pada Kementerian Pariwisata saja hal itu tidak akan berjalan dengan mulus. Hariyadi menyebut di tengah efisiensi yang terjadi saat ini, Kementerian Pariwisata pun tidak bisa bergerak banyak karena anggaran yang dimilikinya pun ikut terdampak."Selain aksesibilitas yang perlu kita perhatikan (yakni) promosinya. Jadi kita ini sangat minim biaya promosi, apalagi kalau kita bergantung atau berharap dari Kementerian Pariwisata itu akan sulit, karena Kementerian Pariwisata juga anggarannya termasuk yang dikurangi jadi anggarannya terbatas," ungkap Hariyadi."Jadi kita harus bergotong-royong untuk bagaimana memikirkan promosi ini," lengkapnya.Untuk itu Hariyadi bergandengan dengan pelaku industri lain dalam melakukan sebuah terobosan agar promosi pariwisata Indonesia ini bisa maksimal. Salah satunya dengan melalui 'Wonderfull Indonesia Hot Deals' yang berkolaborasi dengan AirAsia Move."Untuk promosi Ramadan ada Wonderfull Indonesia Hot Deals untuk Ramadan kita berkolaborasi dengan AirAsia Move. Jadi yang mengeluarkan biaya promosi adalah dari pihak Move, kita coba mencari jalan seperti itu," lengkap Hariyadi. (upd/ddn)