Wawancara eksklusif dengan Ir. Novrizal, M.M. (Ketua PHRI Riau) TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Di tengah efisiensi anggaran sejak 2025, sektor perhotelan memang menghadapi tekanan. Namun Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau tetap optimis dengan mengedepankan peningkatan kualitas pelayanan, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan SDM melalui vokasi pendidikan sebagai solusi jangka panjang. Hal ini mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PHRI Riau yang baru saja usai dilaksanakan di Pekanbaru. Ketua PHRI Riau, Ir. Novrizal, M.M., mengungkapkan bahwa sektor perhotelan saat ini sangat kompetitif dengan keberadaan lebih dari 200 hotel di Pekanbaru. Tantangan kian terasa sejak adanya efisiensi anggaran yang berdampak pada penurunan okupansi dari sektor kegiatan pemerintahan. Baca juga: Okupansi Hotel Meningkat, PHRI Riau Dorong Kebijakan Pro Pariwisata Kualitas Layanan vs Perang Tarif Menyikapi berkurangnya intensitas kegiatan pemerintah, Novrizal mengingatkan para pelaku usaha agar tidak terjebak dalam perang tarif. Menurutnya, pemotongan harga secara besar-besaran bukan solusi jangka panjang yang sehat. "Efisiensi anggaran membuat 'kue' pasar mengecil, sehingga persaingan makin ketat. Namun, kami menekankan bahwa yang terpenting adalah meningkatkan kualitas pelayanan dan servis kepada tamu, bukan sekadar menurunkan harga," ujar Novrizal. Strategi Vokasi dan Keamanan Dalam Rakerda tersebut, PHRI Riau merumuskan beberapa strategi kunci untuk menjaga stabilitas industri hingga tahun 2026, antara lain: Penguatan SDM: PHRI meminta pemerintah daerah mengembalikan sebagian pajak yang disetor industri pariwisata dalam bentuk program vokasi dan pelatihan gratis bagi pekerja hotel. Kolaborasi Keamanan: Mendorong kehadiran Polisi Pariwisata yang ramah dan profesional untuk memastikan hotel sebagai objek vital tetap aman bagi wisatawan bisnis. Infrastruktur: Mendesak perbaikan infrastruktur sebagai faktor penentu minat kunjungan ke Pekanbaru sebagai kota bisnis strategis. Soroti Penertiban "Hotel Ruko" Novrizal juga memberikan catatan khusus terkait fenomena ruko yang dialihfungsikan menjadi tempat penginapan tanpa standar yang jelas. Ia meminta pemerintah bertindak tegas agar citra industri perhotelan tidak rusak oleh praktik yang melanggar aturan peruntukan. "Hotel harus sesuai standar. Jangan sampai industri ini dikotori oleh praktik tidak resmi yang merusak ekosistem bisnis secara keseluruhan," tegasnya. Optimisme di Tengah "Lampu Kuning" Menanggapi pernyataan PHRI Pusat yang menyebut tahun 2026 masih rawan bagi sektor perhotelan, Novrizal menganggap hal tersebut sebagai pengingat bagi seluruh stakeholder. Ia menilai pajak dari hotel, restoran, dan hiburan adalah pajak produktif yang harus dirawat agar industri tetap sehat. "Orang pariwisata harus tetap optimis dan tersenyum, karena keramahtamahan itulah yang kita jual. Pekanbaru punya potensi besar di sektor bisnis dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Jika kolaborasi dengan pemerintah dan aparat berjalan baik, kita bisa melewati dinamika ekonomi ini bersama," pungkasnya. ( Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)