Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi saat Imlek Tak Sesuai Ekspektasi, Hotel di Jogja Kini Berharap pada Paket Iftar Ramadan

Ringkasan Berita: Hotel-hotel di DIY harus gigit jari karena tingkat kunjungan wisatawan pada libur panjang Imlek tahun ini tak seramai tahun lalu. Rata-rata okupansi hotel di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta selama momen libur panjang Imlek hanya menyentuh angka 60 persen.  Para pengelola hotel yang tergabung dalam PHRI DIY berfokus pada paket iftar selama bulan Ramadan TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cuaca yang tak menentu, dompet yang menipis, hingga persiapan menyambut bulan puasa rupanya membuat wisatawan menahan diri untuk berlibur ke Yogyakarta.  Imbasnya, hotel-hotel di DIY harus gigit jari karena tingkat kunjungan pada libur panjang Imlek tahun ini tak seramai tahun lalu. Kondisi itupun memaksa para pengusaha putar otak agar tetap bisa bernapas panjang selama bulan Ramadan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengonfirmasi kondisi ini.  Berdasarkan data sementara, rata-rata okupansi hotel di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama momen libur panjang Imlek hanya menyentuh angka 60 persen. Angka ini tercatat mengalami penurunan sekitar 10 hingga 15 persen jika dibandingkan dengan capaian libur Imlek tahun lalu. Meski demikian, kawasan ring satu pariwisata tetap menunjukkan tajinya. "Seperti biasanya, properti hotel yang berlokasi di Kota Jogja khususnya kawasan Malioboro masih bisa menyentuh angka 80 persen," ungkap Deddy, Selasa (17/2/2026). Bukan tanpa alasan wisatawan memilih untuk menahan diri kali ini. Deddy membeberkan bahwa merosotnya tingkat hunian hotel dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama, yakni daya beli masyarakat yang tengah lesu serta kondisi cuaca di wilayah DIY yang belakangan ini sulit diprediksi.  Baca juga: Tradisi Padusan Jelang Ramadan, Satpol PP DIY Imbau Masyarakat Utamakan Keselamatan Imlek Berdekatan dengan Ramadan Selain itu, jarak waktu perayaan Imlek yang terlampau dekat dengan awal bulan suci Ramadan membuat calon pelancong lebih selektif dalam mengatur pengeluaran mereka untuk menyambut bulan puasa. Tantangan bagi industri perhotelan belum berhenti di situ. Deddy memprediksi tren penurunan ini akan berlanjut memasuki bulan suci Ramadan.  Menurut kebiasaan dari tahun ke tahun, jumlah kunjungan ke hotel pada minggu pertama puasa biasanya anjlok drastis dan hanya tersisa di kisaran 10 hingga 25 persen saja. Paket Iftar Sebagai Penyelamat