Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi Anjlok di Awal Ramadan, Hotel di DIY Bergantung pada Paket Buka Bersama

Ringkasan Berita: Okupansi atau tingkat keterhunian hotel pada awal Ramadan 2026 hanya 5 hingga 10 persen. Ketua PHRI, Deddy Pranowo Eryono mengatakan, kondisi itu memang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.  Namun, ia mengklaim kondisi tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Okupansi hotel di DIY pada awal Ramadan merosot tajam.  Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Deddy Pranowo Eryono mengatakan okupansi hotel pada awal Ramadan 2026 hanya 5 hingga 10 persen. Ia mengakui kondisi tersebut memang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, ia mengklaim kondisi tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. "Pada dua minggu pertama Ramadan okupansi turun sangat drastis. Data menunjukkan hanya sekitar 5-10 persen. Tahun-tahun sebelumnya juga terjadi, namun saat ini lebih parah karena daya beli masyarakat turun," katanya, Senin (23/2/2026). Selain penurunan daya beli masyarakat, kunjungan wisatawan non muslim maupun wisatawan asing ke DIY juga minim. Untuk menutup besarnya biaya operasional hotel selama Ramadan, anggota PHRI DIY mengandalkan paket buka bersama. Mayoritas hotel di DIY menghadirkan paket buka bersama. Pihaknya pun sudah melakukan promosi, salah satunya ke Purwokerto. Tujuannya agar wisatawan di Purwokerto juga bisa menikmati paket buka puasa di DIY. "Jadi dengan Iftar (paket buka bersama) kami berharap bisa menutup biaya operasional selama Ramadan. Karena biaya hotel cukup banyak," ujarnya. Di tengah turunnya daya beli masyarakat, ia masih optimistis paket buka bersama dapat menyelamatkan operasional hotel. Wisatawan turun 70 persen Sementara itu, General Manager Tjokro Style Yogyakarta, Veri Diana mengungkapkan kunjungan wisatawan ke DIY saat bulan Ramadan memang cenderung turun. Bahkan penurunannya bisa mencapai 70 persen. Untuk itu, pihaknya menghadirkan program buka bersama. Ia pun memahami kondisi masyarakat saat ini.  "Paket Iftar kami mulai Rp105 ribu, jadi tidak bisa mahal-mahal juga. Kami harus berkreasi, menciptakan menu-menu kreatif, yang sekarang digemari anak muda, apalagi hotel kami ber-genre anak muda," ungkapnya. Meski paket buka bersama tidak bisa sepenuhnya menutup biaya operasional hotel, namun paling tidak ia bisa membayar kewajiban Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan. "Kalau dibilang menutup sepenuhnya, saya rasa tidak. Tetapi paling tidak bisa menghidupkan revenue hotel. Karena masih ada kewajiban kami memberikan THR kepada karyawan. Nah, dengan adanya Iftar ini, kami bisa memenuhi kewajiban kami," imbuhnya.