Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Menelisik Prospek Perhotelan DIY pada Tahun 2026

bernasnews — Industri perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih memiliki peluang  untuk tumbuh pada 2026. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Terbatas Prospek Industri Perhotelan DIY 2026 dan dirangkai dengan acara buka bersama di Hotel Novotel Suites Yogyakarta, Kamis (26/2/2026).Event strategis tersebut diselenggarakan oleh ISEI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Hotel Novotel Suites Yogyakarta, GIPI DIY, PHRI DIY, dan KADIN DIY. Dalam forum tersebut menghadirkan pelaku usaha, asosiasi, akademisi, perbankan, otoritas moneter dan otoritas keuangan. Budiharto Setyawan, Komisaris Utama PT Bidakara Indah Sejahtera, selaku pengelola Novotel Suites Yogyakarta Malioboro menyampaikan bahwa industri perhotelan DIY saat ini berada pada fase pemulihan.Dikatakan, berdasarkan data BPS Kota Yogyakarta, BPS DIY, dan PHRI DIY, tingkat okupansi hotel sepanjang 2025–2026 menunjukkan fluktuasi tajam, dengan lonjakan signifikan pada akhir tahun namun melemah drastis di awal tahun. “Meski demikian, prospek perhotelan DIY masih terbuka jika direspons dengan strategi adaptif,” jelas Budiharto..Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha dan Investasi PHRI DIY, M. Arif Effendi, menegaskan, bahwa industri perhotelan DIY sejatinya tidak kekurangan wisatawan. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada ketimpangan struktur pasar akibat menjamurnya homestay dan akomodasi abu-abu yang tidak seluruhnya mengikuti regulasi.“Kondisi ini menjadikan cenderung oversupply atau kelebihan pasokan,” ujar Arif, yang juga pemilik salah satu hotel bintang di Yogyakarta.Sementara itu, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto SA, menilai tantangan utama industri hotel saat ini adalah cara pandang yang masih menempatkan hotel sebagai produk tunggal.Padahal, imbuh Bobby, persaingan regional semakin ketat, sementara wisatawan cenderung memilih menginap di daerah sekitar karena faktor harga.“Berkaitan dengan kondisi tersebut pengelola hotel dituntut untuk selalu berkreasi dan berinovasi agar tidak kehilangan pasar,”harap Bobby, juga pemilik sejumlah hotel di DIY.Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menuturkan, bahwa penguatan prospek industri perhotelan tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, hotel harus diposisikan sebagai bagian dari rantai nilai pariwisata yang utuh, dengan inovasi produk yang adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.“Persaingan dengan villa, guest house, hingga kos eksklusif adalah realitas yang harus direspons bersama,” katanya. Dengan desain produk yang tepat, daya saing hotel meningkat dan seluruh pelaku usaha bisa tumbuh dalam ekosistem pariwisata yang sehat, demikan harapan Sudibyo.Sri Susilo, Dosen FEB UAJY menilai kompetisi industri perhotelan di DIY sudah sangat ketat, baik untuk hotel berbintang maupun nonbintang. Kondisi ini memerlukan regulasi yang membatasi izin pembangunan hotel baru di wilayah yang tingkat kejenuhannya tinggi.“Hal ini dilakukan agar pengelola/pemilik hotel masih mendapat insentif keuntungan dari investasi yang dilakukan,” jelas Susilo, yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.Penanggap lain yang hadir antara lain Eko Yunianto, Kepala OJK DIY; Santosa Rochmad, Dirut Bank BPD DIY; Hermanto, Deputi Kepala BI DIY; Lincolin Arsyad, Guru Besar FEB UGM; Edy Suandy Hamid, Rektor UWM; Gumilang AS, Wakil Ketua 1 ISEI Cabang Yogyakarta.Juga hadir Amirullah SH, Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta; Rudy Badrudin, Kafegama DIY; Bakti Wibawa, BRIN DIY dan Dian Ari Ani, WKU Bidang Perbankan dan Pasar Modal KADIN DIY.Para narasumber diskusi. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)Rangkuman dari pendapat mereka adalah sebagai berikut.Pertama, kompetisi industri perhotelan di DIY untuk hotel bintang 3 ke bawah sudah sangat ketat. Untuk investor baru harus diarahkan untuk investasi pada hotel bintang 4 dan bintang 5 dengan tetap mempertimbangkan lokasi apakah ketersediaan hotel sudah mencukupi atau belum.Kedua, kompetisi hotel di DIY tidak hanya dengan sesama hotel berbintang namun juga dengan homestay, quest house, pondok penginapan dan sejenisnya yang sebagian besar belum memiliki izin beroperasi seperti hotel berbintang pada umumnya. Hotel berbintang dengan hotel non-bintang serta homestay dan quest house bukan komplementer lagi namun sudah merupakan substitusi.Ketiga, pengelola hotel harus konsisten menawarkan produknya secara paket/bundling. Paket tersebut dapat ditawarkan bekerjasama dengan pihak lain, misalnya event organizer (EO) yang menyelenggarakan event olahraga, MICE (Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition), dan event lainnya.Keempat, ke depan dengan tersambungnya jalur jalan tol Jogja – Solo, Jogja-Bawen dan Jogja-YIA, dimungkinkan wisatawan domestik yang berkunjung ke DIY khususnya yang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak menginap namun menginap di kota lain di Jawa Tengah atau langsung pulang ke kotanya masing-masing.Kondisi ini juga harus diantisipasi  oleh pengelola hotel serta pemangku kepentingan lain  (misalnya Pemda, Pemkab/Pemkot serta pelaku industri pariwsata lainnya).Sejumlah Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta juga hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Bambang P. Hadi, Hari Kusuma SN, Rokhedi PS, Rini Setyastuti, Relindawati, dan Deni Ismanto.Setelah acara diskusi terbatas, seluruh peserta melaksanakan buka bersama. Acara Diskusi Terbatas dan Buka Bersama (DTBB) ISEI Jogja merupakan kegiatan rutin. “Selama bulan Ramadahan tahun ini akan dilaksanakan sebanyak 5 kali,” tutup Y. Sri Susilo, selaku koordinator DTBB ISEI Jogja. (*/ ted)