Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Ribuan Turis Australia Batal ke Bali akibat Banjir, PHRI: Dampaknya Besar

Kompas TV regional bali nusa tenggara Kompas.tv - 28 Februari 2026, 20:31 WIB Foto ilustrasi Bali (Sumber: Envato) DENPASAR, KOMPAS.TV - Industri pariwisata Bali kembali terpukul. Kali ini, banjir akibat cuaca ekstrem membuat ribuan wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia membatalkan perjalanan ke Pulau Dewata. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengungkapkan pembatalan tersebut sudah terasa dampaknya di lapangan, khususnya dari laporan anggota di Kabupaten Badung. “Belum kami hitung kerugian yang sebenarnya, tapi yang jelas ada kerugian karena banjir, dampaknya ada ribuan yang batal dari Australia,” kata Rai di Denpasar, Sabtu (28/2/2026) dikutip Antara. Menurut Rai, angka pasti pembatalan belum dihitung secara detail. Namun jumlahnya dipastikan lebih dari seribu wisatawan, dan sebagian besar berasal dari Australia. Baca Juga: BGN Hentikan Operasional Sejumlah SPPG, Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis “Ini di Badung saja yang paling banyak karena sentralnya, yang batal sementara Australia saja mudah-mudahan tidak ada yang lain, kami takutnya ada travel warning dari negara tersebut itu yang kami khawatirkan,” ujarnya. Sepekan terakhir, hujan deras disertai angin kencang memicu banjir di berbagai ruas jalan di Bali. Kondisi terparah terjadi di Denpasar dan Badung—dua wilayah yang menjadi pusat akomodasi wisman. Di Badung Selatan saja, saat puncak hujan, banjir merendam lima titik kawasan Legian hingga Kuta. Area ini dikenal sebagai jantung penginapan dan aktivitas wisatawan asing. “Itu yang menyebabkan banyak pertanyaan-pertanyaan dari luar negeri yang masuk ke kami, menanyakan apa yang terjadi, sampai ada yang dievakuasi, itu yang bahaya,” ucap Rai. Isu Banjir Menyebar ke Luar Negeri Informasi mengenai banjir rupanya cepat menyebar ke negara asal calon wisman. Dampaknya langsung terasa: pembatalan kunjungan dan hilangnya potensi pendapatan. “Itu yang terjadi dan sangat merugikan, kita kehilangan potensi pendapatan baik dari pihak pengusaha, pihak hotel ada pesanan-pesanan yang batal, dan juga pemasukan kepada pemerintah berupa pajak kan hilang jadinya,” kata Rai. PHRI Bali menilai situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Terlebih, Bali baru saja dinobatkan sebagai World’s Best Destination 2026. Menurut mereka, destinasi kelas dunia semestinya tidak lumpuh ketika musim hujan tiba. Asosiasi pelaku usaha pariwisata itu mengakui pembangunan fasilitas pariwisata yang masif, termasuk berkurangnya ruang hijau, ikut memperparah kondisi saat hujan deras turun. Rai yang juga menjabat Ketua PHRI Badung menyebut normalisasi sungai bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi risiko banjir berulang. Baca Juga: Lowongan RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten 2026: Formasi Perawat dan Penata Anestesi Opsi mengalihkan wisatawan ke Bali Utara, Timur, atau Barat saat kawasan selatan terdampak banjir dinilai tidak mudah. Ia khawatir wisatawan justru memilih pindah destinasi ke luar Bali alih-alih bergeser ke kabupaten lain. Okupansi Hotel Turun ke 60 Persen Saat ini, tingkat keterisian hotel di Bali berada di angka sekitar 60 persen. Selain terdampak banjir dan isu yang berkembang, periode ini juga belum memasuki musim kunjungan wisatawan. Kondisi tersebut menjadi alarm bagi pelaku industri. Tanpa penanganan serius terhadap persoalan banjir dan dampaknya terhadap citra destinasi, pembatalan kunjungan bisa terus berlanjut, dan kerugian pun kian membesar. Halaman : Sumber : Kompas TV KOMPASTV SHORTS BERITA LAINNYA