Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Seruan Hotel Tak Jual Paket Promo Nyepi, Ini Tanggapan PHRI Bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Akomodasi perhotelan diminta agar tak menjual paket promo yang berkaitan dengan Nyepi.  Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua PHRI Bali sekaligus Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan kebijakan tersebut bukan persoalan. “Beberapa hotel ya mereka mengeluarkan kan. Ini bukannya untuk Nyepi ya di promo kan. Cuman kalau ada yang berkeinginan untuk menginap pada saat hari Nyepi itu kan, Nyepi di Bali jadi lebih aware lagi kan bahwa hari Nyepi amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan itu harus dilakukan. Memang tidak ada masalah,” jelasnya, Sabtu 28 Februari 2026. Ia menilai, yang terpenting adalah seluruh kegiatan selama Nyepi tetap mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh desa adat melalui Majelis Desa Adat (MDA). Baca juga: Malam Takbir Idul Fitri dan Nyepi 2026 Berbarengan di Bali, Umat Islam Diperbolehkan Pergi ke Masjid “Tapi ini memang tidak, ini justru menurut saya ya sangat bagus kalau bisa diterapkan yang penting memenuhi aturan-aturan yang berlaku dari yang telah dikeluarkan oleh MDA kan selama Nyepi itu,” katanya. Terkait penggunaan istilah dalam paket promosi, ia menanggapi santai meski ada larangan penggunaan nama Nyepi secara langsung. “Ya, kita buatkan beberapa hotel sudah saya lihat ada paket-paket. Silent Day salahnya di mana? Itu Nyepi ini kan satu-satunya ada di dunia, Bali. Justru lebih terkenal kan. Promosi di Bali ada Hari Raya Nyepi khusus loh bagus buat kita semua. Untuk introspeksi diri, evaluasi diri kan sangat bagus. Menurut saya ya,” ucapnya. Menurutnya, wisatawan umumnya tidak datang khusus untuk menikmati Nyepi.  Kebanyakan hanya kebetulan berada di Bali saat hari raya tersebut berlangsung. “Ya mereka tidak sengaja untuk datang hari Nyepi. Kebetulan aja pas mereka tinggal di sini 2 minggu kemudian ada hari Nyepi. Bahkan ada beberapa yang menghindari juga pindah ke tempat lain. Ada ke Gili Terawangan, ada ke Jogja juga untuk menghindari hari Nyepi itu,” jelasnya. Ia menegaskan, Nyepi bukan momentum khusus untuk mendongkrak okupansi hotel. “Oh, tidak ada pengaruhnya. Nyepi dan tidak Nyepi bukan mereka datang bukan melihat hari Nyepi nya,” tegasnya. Sementara itu, untuk pasar domestik, peningkatan hunian saat Nyepi juga dinilai tidak signifikan. “Domestik pun tidak ada begitu signifikan peningkatan (kenaikan okupansi) karena mereka justru merasa pada saat Nyepi itu enggak bisa kemana-mana, akan rugi mereka ya. Enggak bisa ada tur, tidak bisa menikmati ke pantai, tidak bisa jalan-jalan. Itu yang terjadi. Nyepi itu tidak bisa mendongkrak okupansi signifikan ya,” tutupnya. Kumpulan Artikel Bali