TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Cuaca ekstrem sebabkan banjir di beberapa titik Bali. Bahkan, daerah pariwisata seperti Sanur, Kuta dan Canggu juga tak luput dari banjir yang terjadi pada Selasa 24 Februari 2026. Akibatnya banyak bookingan cancel ke Bali. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua PHRI Bali sekaligus Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya. Rai mengatakan, ribuan wisatawan asal Australia membatalkan pemesanan kamar. Baca juga: Prakiraan Cuaca Bali Besok 1 Maret 2026, Besakih Hujan Ringan, Kecepatan Angin Hingga 48 Km Per Jam “Banyak, ribuan yang cancel dari Australia. Itu ya karena berita banjir ini. Itu yang terjadi,” ungkapnya pada Sabtu 28 Februari 2026. Ia menegaskan, pembatalan tersebut sangat merugikan pelaku usaha dan berpotensi mengurangi penerimaan pajak daerah. “Itu sangat merugikan. Itu kita lose potential revenue kita ya. Baik dari kita kehilangan dari pengusaha, dari pihak hotel, ada booking-booking yang cancel dan juga pemasukan kepada pemerintah berupa pajak kan hilang jadinya,” imbuhnya. Banjir yang terjadi di sejumlah titik pusat akomodasi seperti Kuta dan Canggu menimbulkan pertanyaan dari wisatawan mancanegara. “Yang mana kita kan menerima the best tourist destination island in the world, kenyataannya ketika musim hujan banjir sangat luar biasa sampai khususnya di Kabupaten Bandung di daerah Legian aja, Kuta lah sampai lima titik banjir itu kan daerah-daerah pusat, daripada akomodasi atau hotel vila itu banyak di sana itu yang menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan dari luar negeri yang masuk ke kita menanyakan apa yang terjadi,” bebernya. Ia menjelaskan, meski banjir hanya terjadi di beberapa titik, dampak citra yang ditimbulkan cukup besar. “Kita sudah jelaskan bahwa hanya di beberapa titik saja yang ada banjir dan kemudian yang di tempat lain sih enggak ada, enggak ada masalah, baik di daerah Timur, daerah Utara, Barat enggak ada masalah ya. Dan termasuk di Uluwatu pun enggak ada masalah. Yang masalah kan di daerah Kuta dan Canggu itu yang paling (besar banjirnya),” jelasnya. Menurutnya, kawasan tersebut merupakan sentra ekonomi dan pusat aktivitas wisata di Badung, sehingga dampaknya terasa signifikan. Terkait potensi travel warning, ia mengaku khawatir jika situasi terus memburuk. “Mudah-mudahan enggak ada yang lain ya. Saya takut ada travel warning, itu yang kita khawatirkan,” ujarnya. Sementara itu, untuk okupansi saat Ramadan, tingkat hunian hotel berada di kisaran normal. “Oh, bulan Ramadan masih slow-slow aja, masih antara 60-65 persen ya. Jadi tingkat hunian ini yang terjadi. Mudah-mudahan ada peningkatan. Biasanya kan meningkat itu biasanya mulai Juni, Juli, Agustus ya,” pungkasnya. Kumpulan Artikel Bali