Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Tiket Pesawat Mahal, Kunjungan Wisatawan Domestik ke Bali Diprediksi Tak Signifikan

KOMPAS.com - Kontribusi tamu hotel domestik di Bali diprediksi tidak mengalami lonjakan signifikan pada Lebaran 2026 mendatang. Peningkatannya diproyeksikan berkisar 10-15 persen dibandingkan hari biasa. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya (ARS)."Pelajaran dari tahun lalu, (target wisatawan domestik) tidak tercapai karena persaingan daerah-daerah lain di domestik. Jadi dengan peningkatan itu pun, kita syukuri," ujar ARS yang juga menjabat sebagai Ketua PHRI Badung, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/3/2026). PHRI Bali menargetkan okupansi hotel sebesar 60-70 persen selama puncak musim liburan pada Lebaran 2026. Meski demikian, berbagai kendala yang membuat turis domestik menunda perjalanan ke Bali dikhawatirkan dapat menghambat realisasi target tersebut. Baca juga: Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi Tripadvisor Faktor penghambat kunjungan wisata ke Bali ARS menyoroti sejumlah faktor yang menentukan besar okupansi hotel di Bali. Salah satunya, harga tiket domestik yang terbilang mahal. "Penerbangan atau tiket masih mahal untuk domestik. Bahkan justru lebih murah dibandingkan kalau ke Singapura ataupun ke Vietnam," ungkap ARS ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (4/3/2026). Selain itu, banyaknya opsi destinasi wisata baru yang tengah berkembang, menambah alasan minimnya peningkatan tamu hotel domestik di Bali. Baca juga: Update Terkini: Penerbangan dari Bali ke Timur Tengah Hari Ini Masih TergangguARS menyebut Yogyakarta, Banyuwangi, Surabaya, Semarang, dan destinasi lainnya di pulau Jawa yang menarik banyak minat wisatawan. "Kalau di Jawa sendiri lebih murah ya karena infrastruktur jalannya sudah bagus melalui tol dan bisa bepergian sama keluarga, ramai-ramai kan gitu," ungkapnya. Kondisi ekonomi yang tidak stabil juga menambah deretan alasan tamu hotel Bali diprediksi tidak seramai biasanya pada Lebaran 2026. Baca juga: Pemkab Jember Siapkan Mudik Gratis 2026, Rute Jakarta hingga Bali Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, ARS menyadari bahwa berwisata bukanlah kebutuhan utama bagi banyak orang. "Tapi pasti ada peningkatan juga daripada biasanya karena kan market domestik Indonesia ini sangat besar dari total penduduk 260 juta. Sekitar 20 persennya kan orang-orang punya (mampu) juga yang melakukan traveling," jelas dia. Terakhir, kondisi cuaca yang tak menentu sepanjang Maret 2026 juga menjadi pertimbangan wisatawan berlibur ke Bali.  "Cuaca di bulan Maret kan kurang bersahabat ya. Jadi banyak terjadi bencana alam dan sebagainya," pungkas dia. Baca juga: Perdana! Dua Objek Wisata Bali Jadi Lokasi Kejuaraan Olahraga Ekstrem Tingkat Dunia KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang