Jakarta, Beritasatu.com - Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel, berdampak terhadap sektor pariwisata Indonesia, khususnya Bali. Namun, tingkat hunian hotel di Bali tidak serta-merta anjlok drastis dalam waktu singkat. Di tengah pembatalan penerbangan akibat penutupan sejumlah bandara di Timur Tengah, PHRI mencatat sebuah anomali. Meskipun banyak wisatawan yang batal datang ke Bali, tapi banyak juga wisatawan yang tertahan di Bali karena penerbangan yang terganggu. "Di satu sisi kedatangan wisman baru berkurang, sisi lainnya banyak juga wisman yang stranded dan tinggal di Bali. Jadi kalau angkanya yang datang dan yang yang berangkat hampir sama," kata Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, kepada Beritasatu.com, Sabtu (8/3/2026). Sayangnya kondisi tersebut bukan berarti membawa keberuntungan bagi industri pariwisata di Bali. Kendati secara kuantitas banyak wisman yang tertahan di Bali, secara kualitas, kondisi ini tetap berdampak negatif terhadap pariwisata Bali. Menurut Rai, ketidakpastian geopolitik ini mempengaruhi psikologis wisatawan yang berujung pada berkurangnya keinginan untuk membelanjakan uang. "Mereka dari Timur Tengah dan Eropa itu durasi tinggalnya cukup panjang ya. Jadi itu. Kekhawatiran mereka secara psikologi juga berdampak. Jadi ketika mereka merasa tidak aman lagi, mereka mengurungkan untuk datang ke Bali. Jadi tidak sedikit yang cancel booking-an," menurut dia. Menyikapinya, langkah mitigasi yang diambil adalah melakukan diversifikasi pasar secara agresif. PHRI Bali kini mengalihkan fokus promosi ke wisman Australia. Selain itu, para pelaku wisata Bali juga membidik dua pasar raksasa Asia yang saat ini tren kunjungannya sedang meningkat tajam, yakni Tiongkok dan India. Dengan memperkuat promosi di ketiga negara ini, diharapkan dapat menambal kebocoran jumlah kunjungan dari pasar Eropa dan Timur Tengah. Kendati demikian, jika konflik bersenjata ini berkepanjangan, ia meyakini perlu dilakukan langkah yang membuat wisatawan merasa aman di Bali. "Pariwisata itu fondasi utamanya adalah rasa aman. Jangankan membayar, diberikan tiket gratis pun orang tidak akan mau bepergian jika situasinya tidak aman," kata dia. Oleh karena itu, PHRI Bali menerapkan dua strategi jangka panjang. Secara internal, para pelaku wisata dan pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjaga kondusivitas, keamanan, dan stabilitas di dalam Bali sendiri. Secara eksternal, PHRI terus melobi Kementerian Pariwisata, maskapai penerbangan, dan agen perjalanan internasional untuk mencari solusi penerbangan langsung ke Bali tanpa harus melintasi zona konflik. "Komitmen kita, PHRI, menjaga stabilitas dan keamanan di Bali, kondusivitas. Kedua, mengupayakan untuk melakukan promosi-promosi, bekerja sama dengan industri pariwisata, travel agent, wholesaler, dan juga Kementerian Pariwisata, serta tour operator juga maskapai untuk melakukan langkah-langkah," jelas dia. Israel Serang IranPariwisata BaliWisatawan Asing