DENPASAR - Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel, mulai berdampak pada sektor pariwisata Indonesia, terutama di Bali.Bagi Pulau Dewata, kawasan Timur Tengah bukan hanya pasar wisatawan mancanegara, tetapi juga menjadi jalur penting penerbangan internasional yang menghubungkan wisatawan asal Eropa menuju Asia Tenggara. Ketika situasi di kawasan tersebut memanas, sektor pariwisata Bali pun ikut merasakan dampaknya.Sedikitnya 15 penerbangan internasional dilaporkan mengalami penundaan hingga pembatalan. Kondisi ini menjadi pukulan bagi industri pariwisata Bali, mengingat maskapai dari Uni Emirat Arab dan Qatar selama ini rutin melayani penerbangan langsung ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya mengatakan, wisatawan mancanegara (wisman) dari Timur Tengah merupakan salah satu pasar penting bagi pariwisata Bali.“Wisatawan dari Uni Emirat Arab dan Qatar yang biasa terbang langsung atau direct ke International Airport Ngurah Rai itu jumlahnya cukup lumayan banyak ya. Tentu, ini akan berdampak terhadap pariwisata Bali. Dan ini akan berdampak terhadap ekonomi juga," kata Rai dalam keteranganya, Senin 9 Maret.Selain itu, sejumlah bandara di Timur Tengah selama ini menjadi titik transit utama bagi wisatawan Eropa yang menuju Bali. Penutupan wilayah udara di kawasan konflik membuat arus perjalanan wisatawan ikut terganggu."Harapan saya, mereka yang Eropa itu bisa reroute penerbangannya melalui Taipei ataupun China, RRC. Meskipun, tentu akan mengambil waktu lebih lama, karena harus transit dua kali," kata Rai.Menariknya, meskipun terjadi pembatalan penerbangan, tingkat hunian hotel di Bali tidak langsung anjlok drastis. PHRI mencatat adanya fenomena yang berbeda di lapangan.Hal ini terjadi karena sebagian wisatawan yang sudah berada di Bali tidak dapat kembali ke negara asalnya akibat gangguan penerbangan."Pada satu sisi kedatangan wisman baru berkurang, sisi lainnya banyak juga wisman yang stranded dan tinggal di Bali. Jadi, angka yang datang dan yang berangkat hampir sama," kata dia.Meski secara jumlah kunjungan tidak langsung menurun drastis, dampak terhadap industri pariwisata tetap terasa. Ketidakpastian geopolitik dinilai memengaruhi psikologis wisatawan, sehingga mereka cenderung menahan pengeluaran selama berlibur."Mereka dari Timur Tengah dan Eropa itu durasi tinggalnya cukup panjang ya. Jadi itu, kekhawatiran mereka secara psikologi juga berdampak. Ketika mereka merasa tidak aman lagi, mereka mengurungkan untuk datang ke Bali. Jadi tidak sedikit yang cancel booking," ungkap dia.Sebagai langkah mitigasi, pelaku industri pariwisata Bali mulai melakukan diversifikasi pasar wisatawan.PHRI Bali kini meningkatkan promosi untuk menarik wisatawan dari Australia, sekaligus membidik dua pasar besar di Asia yang pertumbuhan kunjungannya meningkat, yakni Tiongkok dan India.Dengan memperkuat promosi di ketiga negara tersebut, diharapkan dapat menutup potensi penurunan jumlah wisatawan dari pasar Eropa dan Timur Tengah. Baca juga: AS Tutup Mata, Tuduh Israel yang Serang Kilang Minyak Iran di TeheranMirae Asset Bantah Isu Rp14,5 Triliun, Tegaskan Dana Nasabah Aman di Tengah Penyidikan OJKX Selidiki Unggahan Rasis yang Diduga Dihasilkan Chatbot AI Grok Namun, jika konflik bersenjata berlangsung dalam waktu lama, Rai menilai perlu langkah strategis untuk memastikan wisatawan tetap merasa aman berkunjung ke Bali."Pariwisata itu fondasi utamanya adalah rasa aman. Jangankan membayar, diberikan tiket gratis pun orang tidak akan mau bepergian jika situasinya tidak aman," kata dia. Tag: pariwisata bali konflik timur tengah phri