PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Tingkat hunian hotel di Purwokerto selama libur Lebaran 2026 diprediksi tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas memperkirakan okupansi hotel hanya mampu mencapai sekitar 80 persen. Ketua Umum Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI Kabupaten Banyumas, Irianto mengatakan kondisi ekonomi yang sedang lesu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat hunian hotel. Situasi tersebut membuat okupansi hotel pada musim libur Lebaran belum bisa maksimal. "Prediksi okupansi sama dengan tahun lalu, bisa sampai 80 persen," kata dia. Ia menuturkan hingga saat ini sejumlah hotel di Purwokerto belum dapat melaporkan tingkat pemesanan kamar secara penuh. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat hunian hotel masih belum mencapai angka maksimal. BACA JUGA:Hotel di Purwokerto Digerebek Tiga Mucikari Diciduk, Lima PSK Diamankan, Diduga Libatkan Anak "Mungkin karena kondisi ekonomi juga. Apalagi sekarang di Purwokerto hotel-hotel banyak sekali," ujarnya. Meski demikian, pelaku usaha perhotelan masih menyimpan harapan terhadap momentum libur Lebaran tahun ini. Pasalnya, masa libur Lebaran 2026 terbilang cukup panjang sehingga berpotensi mendongkrak pemesanan kamar hotel. Irianto berharap durasi libur yang panjang dapat membuat wisatawan memesan kamar lebih lama selama berada di Purwokerto. Kondisi tersebut diharapkan mampu menjaga tingkat hunian hotel tetap stabil selama periode libur Lebaran. "Kami berharap libur panjang, booking kamarnya juga panjang karena ada berharap full terus, selama libur lebaran," ujarnya. BACA JUGA:Ramadan United, FOX HARRIS Hotel & Conventions Banjarnegara Beragam Menu dan Grand Prize Manarik Selain faktor ekonomi, keberadaan jalan tol juga dinilai turut memengaruhi tingkat hunian hotel di wilayah Purwokerto. Menurut Irianto, kelancaran arus lalu lintas justru berdampak pada berkurangnya wisatawan yang singgah untuk beristirahat. Ia menjelaskan bahwa sebelum adanya jalan tol, kemacetan di jalur utama sering membuat pengendara memilih berhenti di kota untuk beristirahat. Situasi tersebut biasanya memberikan dampak positif bagi hotel maupun pusat oleh-oleh di sekitar kota. "Pengaruh jalan tol, saya evaluasi juga. Setelah ada jalan tol tidak ada kemacetan. Kemacetan berdampak baik terhadap ramainya hotel dan tempat oleh-oleh. Mereka yang terkena macet memilih untuk singgah beristirahat dan berwisata," paparnya. ***