Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Menelusuri Jejak Spiritual di Pesisir Jakarta: 5 Wisata Religi Ikonik di Jakarta Utara

JAKARTA – Hari Raya Idul Fitri 1447 H tidak hanya menjadi momentum silaturahmi. Momen lebaran juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan wisata religi. Jakarta Utara, dengan sejarah pesisirnya yang panjang, menyimpan deretan destinasi spiritual yang menawarkan perpaduan harmoni antara arsitektur megah, jejak ulama, hingga simbol toleransi yang kuat. Bagi warga Ibu Kota yang tidak mudik, menjelajahi situs-situs suci di wilayah ini bisa menjadi alternatif liburan yang sarat makna. Masjid Ramlie Musofa Salah satu destinasi paling mencolok adalah Masjid Ramlie Musofa di kawasan Sunter. Masjid yang didominasi marmer putih ini kerap dijuluki 'Taj Mahal Jakarta' karena kemegahan arsitekturnya. Sofian Rasidin, pengurus masjid sekaligus putra dari pendiri almarhum Haji Ramli Rasidin, menjelaskan bahwa rumah ibadah ini dibangun sebagai simbol keterbukaan dan cinta universal. Salah satu keunikannya adalah ukiran Surah Al-Fatihah yang ditulis dalam tiga bahasa—Arab, Indonesia, dan Mandarin—pada bagian dinding masjid. “Kami ingin masjid ini menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja. Maka dari itu fasilitas lift disediakan khusus untuk memudahkan orang tua (lansia) dan saudara-saudara kita yang disabilitas agar tetap bisa beribadah dengan khusyuk di lantai atas,” ujar Sofian. Masjid Luar Batang Bergeser ke wilayah Penjaringan, Masjid Luar Batang tetap menjadi magnet utama bagi peziarah dari berbagai daerah. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1739 ini berkaitan erat dengan sosok ulama besar, Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, yang makamnya berada di kompleks masjid. Kawasan sekitar masjid kini telah mengalami penataan trotoar dan akses jalan oleh pemerintah daerah sehingga pengunjung dapat berjalan kaki dengan lebih nyaman meski berada di kawasan permukiman padat. Antusiasme peziarah di Luar Batang seolah tak pernah surut. Supriyadi (45), seorang pengunjung asal Jawa Barat yang ditemui di lokasi, mengaku hampir setiap tahun menyempatkan diri datang menjelang Lebaran. “Ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan saat berdoa di sini. Meskipun di luar panas dan padat, di dalam masjid terasa sejuk karena angin lautnya masuk lewat sela-sela bangunan,” ujarnya di pelataran masjid. Masjid Al-Alam Marunda Tak jauh dari garis pantai Marunda, terdapat Masjid Al-Alam Marunda yang juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Si Pitung. Masjid tua ini diperkirakan berdiri antara abad ke-17 hingga ke-18 dan menjadi salah satu peninggalan penting perkembangan Islam di pesisir Jakarta. Empat tiang kayu jati di bagian tengah bangunan masih dipertahankan hingga kini sebagai elemen arsitektur asli. Lokasinya yang relatif tenang di wilayah pesisir memberikan suasana hening yang cocok bagi pengunjung yang mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota. Gereja Tugu Selain destinasi Islam, Jakarta Utara juga menyimpan jejak sejarah Kristen melalui Gereja Tugu di kawasan Semper Barat, Cilincing. Gereja yang dibangun pada tahun 1747 ini merupakan salah satu gereja tertua di Jakarta dan menjadi pusat budaya masyarakat keturunan Portugis yang dikenal sebagai komunitas Mardijker. Mengunjungi Gereja Tugu saat libur Lebaran menghadirkan pesan kuat tentang indahnya toleransi. Para pemuka jemaat kerap menekankan bahwa gereja ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah kerukunan masyarakat di wilayah Cilincing yang multikultural. Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan Destinasi kelima yang tak kalah unik adalah Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan di kawasan Ancol. Salah satu daya tarik yang sering menjadi perhatian pengunjung adalah pohon kurma yang tumbuh di halaman masjid. Keberadaan pohon tersebut kerap dianggap jamaah sebagai simbol keberkahan dalam perjalanan ziarah mereka. Aksesibilitas Lokasi Dari sisi aksesibilitas, kelima lokasi ini relatif mudah dijangkau menggunakan transportasi umum. Sejumlah rute TransJakarta serta layanan angkutan pengumpan menghubungkan kawasan Penjaringan, Sunter, hingga Cilincing, sehingga memudahkan mobilitas warga yang ingin berwisata religi tanpa harus membawa kendaraan pribadi. Para pengelola tempat ibadah pun mengimbau agar pengunjung tetap menjaga kesopanan, terutama dalam berpakaian serta menjaga kebersihan lingkungan selama berada di area wisata religi. Jakarta Utara menunjukkan bahwa perkembangan kota pesisir tidak melupakan akar spiritualitasnya. Perjalanan menyusuri masjid-masjid bersejarah hingga gereja tua di wilayah ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan penghormatan terhadap sejarah panjang keberagaman yang membentuk karakter masyarakat Jakarta hingga hari ini. (*) Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.