TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Banyaknya hari libur pada Mei 2026 diperkirakan berdampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel di Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya di Kota Makassar. Kondisi ini bahkan diprediksi menyebabkan penurunan okupansi dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan kalender nasional, Mei 2026 memiliki total enam hari libur resmi. Jumlah tersebut terdiri atas empat hari libur nasional dan dua hari cuti bersama, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Hari Libur Nasional. Adapun empat hari libur nasional tersebut meliputi 1 Mei (Hari Buruh Internasional), 14 Mei (Kenaikan Yesus Kristus), 27 Mei (Iduladha 1447 Hijriah), dan 31 Mei (Waisak 2570 BE). Sementara itu, dua hari cuti bersama ditetapkan pada 15 Mei (Cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus), dan 28 Mei (Cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah). Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, mengatakan banyaknya periode long weekend justru berdampak negatif terhadap industri perhotelan di Makassar. Hotel-hotel di Makassar, kata dia, justru akan merana saat terjadi long weekend. “Dari sisi forecasting, tingkat hunian dan event sangat turun dibandingkan April. Bulan Mei pasti jauh di bawah realisasi April,” kata Anggiat, kepada Tribun-Timur.com, di Makassar, Minggu (3/5/2026). Menurut Anggiat, penurunan ini tidak merata di seluruh wilayah Sulsel. Beberapa destinasi wisata seperti Malino, Bira, dan Toraja justru berpotensi mengalami peningkatan kunjungan saat libur panjang. Namun, kondisi berbeda terjadi di Kota Daeng, sebutan Kota Makassar. “Di daerah lain mungkin naik, tapi khusus Makassar akan terjun bebas karena kota ini belum cukup kuat dari sisi pariwisata,” jelasnya. CEO Phinisi Hospitality Indonesia itu menambahkan, pada awal Mei 2026, pergerakan okupansi sempat terdorong oleh tiga kegiatan besar. Yakni Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin (Mubes IKA Unhas), serta kegiatan kedokteran gigi anak dan kedokteran saraf.