Gianyar - Kedatangan wisatawan ke Bali diperkirakan memuncak pada Juni hingga Juli 2026. Pada momen itu, okupansi hotel dan restoran di Bali diprediksi naik 10 persen hingga 12 persen."Juni-Juli peak season. Biasanya naik okupansinya. Antara 10 persen sampai 12 persen," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace saat ditemui detikBali di kawasan Taman Dedari, Ubud, Gianyar, Minggu (24/5/2026).Menurut Cok Ace, sektor pariwisata Bali cukup terdampak sejumlah persoalan dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari kenaikan harga avtur yang berimbas pada harga tiket pesawat ke Bali, hingga pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Kondisi itu membuat wisatawan asing diprediksi mendominasi kunjungan ke Bali saat musim puncak liburan dua bulan mendatang. Wisatawan dari negara pengguna dolar dinilai mendapat keuntungan lebih saat menukar mata uang ke rupiah."Karena kurs dolar sudah di atas Rp 17.000. Sehingga, dengan nilai tukar itu, mereka akan mendapat banyak rupiah. Walapun, mereka kena tekanan pada harga tiket," kata Cok Ace.Cok Ace menuturkan tingkat okupansi hotel di Bali masih menunjukkan tren positif. Pada kuartal I 2026, okupansi naik 2,4 persen dibandingkan periode yang sama pada kuartal I 2025.Meski terjadi kenaikan, harga kamar hotel anggota PHRI Bali belum mengalami perubahan. Pelaku usaha pariwisata dan perhotelan masih memilih bermain aman dengan menahan kenaikan tarif."Harga belum bisa kami naikkan. Kami belum bisa bergerak. Kami harus kalkulasi," katanya.Meski begitu, perubahan harga kamar hotel di Bali, termasuk tingkat okupansinya, masih bisa terjadi. Sebab, persaingan pengusaha hotel tidak hanya terjadi dengan pelaku usaha di dalam negeri.Pelaku usaha perhotelan di Bali juga bersaing dengan sektor perhotelan di luar negeri. Karena itu, pengusaha hotel dan pelaku wisata akan melakukan penyesuaian seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS."Karena, kompetitor kami di luar negeri, mereka juga berusaha menarik wisatawan ke daerah masing-masing," katanya.Perubahan realisasi okupansi juga bisa terjadi pada hotel yang didominasi tamu domestik. Kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah disebut belum mampu mendongkrak okupansi kamar hotel dari wisatawan domestik secara signifikan."Kami tidak pernah memilih (tamu) asing atau domestik. Tapi sejak pemerintah mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas, yang mana kami dahulu banyak bergantung dari kementerian dan lembaga negara lainnya, mengurangi kesempatan kami mendapat tamu domestik," katanya. (dpw/dpw)