Tugu Yogyakarta, di tengah harapan industri hotel mengejar lonjakan okupansi saat libur panjang Iduladha. (Foto: phriyogyakarta.com) Libur panjang Iduladha tahun ini bukan sekadar momentum musiman bagi industri hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi banyak pelaku usaha perhotelan, periode ini menjadi semacam ujian daya tahan: apakah arus wisatawan masih cukup kuat untuk menopang bisnis di tengah biaya operasional yang terus meningkat dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Optimisme bercampur kecemasan Di koridor-koridor hotel, suasana optimisme bercampur kecemasan terasa cukup nyata. Telepon reservasi memang mulai bergerak, tetapi belum sepenuhnya memberikan rasa aman. Hingga memasuki periode 27–31 Mei, tingkat reservasi hotel di DIY masih berada di kisaran 30%–40%. Angka itu masih cukup jauh dari target okupansi industri yang dipatok menembus 80%. Namun Yogyakarta memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding banyak kota wisata lain. Kota ini sejak lama dikenal sebagai destinasi spontan. Banyak wisatawan memutuskan bepergian pada menit-menit terakhir, tanpa reservasi jauh hari sebelumnya. Karakter semacam itu membuat pelaku industri hotel di DIY terbiasa membaca peluang bahkan di tengah situasi yang tampak lambat. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, melihat peluang tersebut masih terbuka lebar menjelang puncak liburan. Menurutnya, pola wisatawan domestik ke Yogyakarta memang sering bergerak mendekati hari keberangkatan. “Biasanya tamu Jogja banyak yang last minute. Jadi peluang kenaikan okupansi masih terbuka,” ujar Deddy Pranowo kepada SWA.co.id. Harapan itu kini ditumpukan pada sekitar 12.000 kamar hotel yang disiapkan oleh kurang lebih 400 hotel anggota PHRI DIY, mulai dari hotel nonbintang hingga hotel bintang lima. Seluruhnya kini berada dalam arena persaingan yang semakin ketat untuk memperebutkan wisatawan domestik yang semakin sensitif terhadap harga. Di satu sisi, hotel-hotel membutuhkan okupansi tinggi agar arus kas tetap terjaga. Tetapi di sisi lain, ruang untuk menaikkan tarif kamar semakin sempit. Sedikit saja harga naik, wisatawan bisa dengan mudah berpindah ke hotel lain, guest house, homestay, atau penginapan berbasis aplikasi digital yang jumlahnya terus bertambah di Yogyakarta. Tekanan tersebut semakin berat karena banyak kebutuhan operasional hotel masih sangat terkait dengan kurs dolar AS. Peralatan elektronik, bahan baku tertentu, hingga kebutuhan perawatan hotel ikut terdorong naik seiring penguatan mata uang Amerika Serikat itu. Deddy Pranowo. (Istimewa) Paradoks Situasi itu menciptakan paradoks yang kini dirasakan banyak pelaku industri hotel DIY: kamar bisa saja terisi, tetapi keuntungan belum tentu membesar. Banyak hotel akhirnya memilih menahan tarif demi menjaga tingkat okupansi tetap tinggi. Dalam kondisi seperti itu, okupansi menjadi kata yang sangat menentukan. Semakin banyak kamar terisi, semakin besar peluang hotel menjaga napas bisnisnya di tengah biaya operasional yang terus membengkak. Karena itu, target okupansi 80% yang dipasang PHRI DIY bukan sekadar angka optimistis. Di balik angka tersebut, tersimpan harapan agar libur panjang masih mampu menjadi penyelamat industri perhotelan di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya mereda. Tahun lalu, periode Iduladha membawa tingkat okupansi hotel DIY berada di kisaran 40%–60%. Tahun ini, para pelaku industri berharap momentum liburan yang lebih panjang dapat mendorong capaian yang lebih tinggi. Di balik tantangan tersebut, fluktuasi kurs dolar juga menghadirkan efek yang menarik bagi sektor pariwisata. Bagi wisatawan mancanegara, pelemahan rupiah justru menjadi keuntungan karena daya beli mereka meningkat ketika berbelanja di Indonesia. Sebaliknya, bagi wisatawan domestik, kondisi itu membuat pengeluaran terasa semakin berat. Wisatawan asing di DIY. (Foto: radiostar.harianjogja.com) Meski demikian, pelaku industri mulai melihat adanya perubahan perilaku wisatawan. Ketika biaya perjalanan ke luar negeri semakin mahal, sebagian masyarakat mulai mengalihkan rencana liburan mereka ke destinasi domestik. “Positifnya yang mau berwisata ke luar negeri itu menunda dan mengalihkan ke wisata Indonesia,” kata Deddy. Dalam peta wisata domestik, Yogyakarta dan Bali disebut menjadi dua daerah yang paling berpeluang menikmati pergeseran tersebut. Keduanya masih memiliki daya tarik kuat dari sisi budaya, kuliner, hingga ragam pilihan akomodasi. Namun PHRI DIY menyadari bahwa momentum itu hanya bisa dimanfaatkan jika industri tetap realistis membaca kondisi pasar. Paket wisata yang terlalu mahal justru berpotensi membuat wisatawan kembali menahan belanja. “Nah DIY dan Bali itu jadi pilihan mereka. Ini harus kita tangkap, dan sekali lagi selain menangkap peluang juga melihat kondisi masyarakatnya, jangan membuat paket yang mahal,” ujar Deddy. Pada akhirnya, tantangan hotel-hotel Yogyakarta hari ini bukan lagi sekadar mengisi kamar. Mereka juga harus memastikan wisata tetap terasa terjangkau bagi masyarakat yang daya belinya sedang melemah. Di tengah kompetisi yang semakin rapat dan biaya operasional yang terus naik, industri hotel DIY kini bertahan dengan satu permainan yang semakin sulit: menjaga keseimbangan antara okupansi, harga, dan harapan. (*) Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.