KONDISINYA KURANG BAIK: Industri perhotelan di DIY sedang tidak baik-baik saja. Okupansi hotel saat libur panjang sekolah, misalnya, hanya sekitar 20 hingga 25 persen. JOGJA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyoroti tren wisata ala backpacker yang kian marak di kalangan generasi Z. Fenomena ini membuat banyak hotel di Jogja kehilangan tamu menginap. Alih-alih menginap, banyak wisatawan kini datang ke Jogja hanya untuk singgah beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain. Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, fenomena tersebut dikenal sebagai one day tour, yakni wisata singkat tanpa menginap yang belakangan semakin marak terjadi di Jogja. "Ini anak-anak muda, Gen Z. Mereka turun dari kereta pagi, mandi di stasiun, koper dititip loker, habis jalan-jalan ke Malioboro lalu malam lanjut lagi ke kota lain," ujar Deddy, Kamis (28/5/2026). Baca Juga: Aktivitas Digital Banyak Belum Terbaca, Sensus Ekonomi 2026 di DIY Akan Jangkau Usaha Online dan UMKM Rumahan Menurutnya, tren tersebut sudah terlihat dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Namun kini semakin masif terjadi dan hal tersebut turut menjadi tantangan baru bagi industri hotel di Jogja. "Setelah kita lihat kok banyak anak muda, kita telusuri ternyata stasiun menyediakan loker dan fasilitas mandi. Akhirnya mereka enggak perlu menginap," katanya. Deddy menilai perubahan pola wisata itu dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari penurunan daya beli masyarakat, kemudahan akses transportasi, hingga munculnya budaya backpacker di kalangan wisatawan muda. Fenomena itu, membuat Jogja perlahan juga hanya menjadi kota transit bagi sebagian wisatawan. Baca Juga: Momentum Idul Adha, Jasa Penggilingan Daging di Kulon Progo Laris Manis "Kalau dari arah barat, mereka turun di Jogja, lihat Malioboro, terus lanjut ke Malang atau Jawa Timur. Kalau dari timur, pagi datang, malam lanjut ke Jakarta atau Bandung. Jadi Jogja hanya dilewati," bebernya. Meski demikian, Deddy menilai tren tersebut tetap bisa menjadi peluang apabila pelaku wisata mampu menyesuaikan layanan dengan kebutuhan wisatawan muda. Ia mendorong hotel-hotel mulai memiliki budget lebih fleksibel, misalnya memperbolehkan check-in dini hari tanpa harus menunggu siang hari. "Mungkin bisa check-in lebih cepat untuk istirahat, lalu besok check-out. Ini sudah mulai dilakukan beberapa budget hotel," jelasnya. Baca Juga: Penemuan Mayat di Kali Ngrowo Ngentakrejo Kulon Progo Terbongkar, Pelaku Bunuh Korban Gegara Hutang Salah satu backpacker asal Surabaya Rifky Azhar mengaku lebih sering memilih perjalanan singkat saat berkunjung ke Jogja, baik sendiri maupun bersama teman-temannya. Ia lebih sering memilih pola perjalanan hemat tanpa menginap di hotel. "Biasanya sehari, naik kereta, jalan atau nongkrong di cafe, ketemu temen-temen, malam lanjut lagi naik kereta ke kota lain atau pulang. Lebih hemat karena enggak perlu bayar hotel," katanya. Menurut Rifky, keberadaan loker dan fasilitas mandi di stasiun juga membuat wisatawan muda semakin mudah melakukan perjalanan model backpacker antarkota. Baca Juga: Barcelona Dapatkan Tanda Tangan Top Skor Newcastle United di Liga Champions, Anthony Gordon Di samping itu, hal yang cukup menguntungkan baginya adalah teman-teman yang bisa dia datangi untuk sekadar istirahat atau bahkan menginap. "Sekarang praktis sih. Saya gak ketergantungan hotel, karena sering backpack. Kalaupun nginep, biasanya kontak beberapa teman yang ada di sini," tambahnya. (iza/wia) Editor : Winda Atika Ira Puspita