PHRI sebut konsep zero waste Kota Batu terbentur lahan sempit hotel. Selecta jadi contoh sukses, tapi tak semua pelaku usaha bisa replikasi. Begini usulan mereka.Perbesarmemang sesak. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi (FOTO: DOK TIMES Indonesia) Ringkasan berita Industri wisata mengaku tak bisa mengelola sampah karena keterbatasan lahan.Peningkatan jumlah wisatawan ikut menambah jumlah sampah di Kota Batu.Wisata Zero Waste di Batu masih jadi angan-angan.LAHAN SEMPIT, biaya mahal, dan tenaga terbatas masih jadi ganjalan terbesar mewujudkan Kota Batu sebagai destinasi wisata zero waste alias bebas sampah. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan sebagian besar pelaku usaha hotel dan restoran mengaku kesulitan menyediakan tempat pengolahan sampah sendiri.“Kalau memilah itu mudah, tapi mengolah sampah itu yang sulit,” ujar Sujud kepada TIMES Indonesia, Rabu (13/5/2026). Dari sekitar 100 anggota PHRI Kota Batu, 66 di antaranya adalah hotel.Peraturan Wali Kota Batu Nomor 73 Tahun 2021 memang mendorong usaha mengelola sampah secara mandiri. Tapi aturan bagus tak selalu mulus di lapangan. Apalagi jika menyentuh soal tanah. Sujud mengatakan Kota Batu sempit, sehingga banyak hotel berdiri di lahan yang sudah padat oleh kamar, restoran, kolam renang, hingga parkiran. Sisa ruang untuk tempat pengolahan sampah nyaris tak ada.Sujud meyakini lahan yang lapang adalah salah satu syarat pelaku usaha bisa menjalankan sistem zero waste. Taman Rekreasi Selecta yang punya lahan belasan hektare misalnya, dinilai berhasil menjalankan zero waste dan menjadi percontohan. “Mungkin bisa direplikasi kalau ada lahan. Kalau tempatnya sempit pasti kesulitan,” katanya.Solusi pengelolaan sampah dengan keterbatasan lahan
Sujud mengatakan PHRI tak tinggal diam dengan masalah sampah yang terus menggungung. Sekitar tahun 2023, PHRI mengusulkan pengelolaan sampah organik di TPA Tlekung. Sampah tak sekadar dibuang, tapi diolah jadi pakan ternak dan mendapat nilai ekonomi.“Kami berharap sistem itu bisa membuka manfaat ekonomi bagi petugas pengelola sampah,” ujar Sujud.Harapan lain tertuju pada pemerintah daerah. PHRI minta tak hanya aturan yang dibuat. Tapi juga fasilitas pengangkutan, tempat pengolahan, pendampingan, dan dukungan nyata dari Dinas Lingkungan Hidup.Saat ini, kata Sujud, mayoritas hotel dan restoran memilah sampah secara sederhana. Sampah lalu diserahkan ke vendor pihak ketiga dengan membayar jasa secara bulanan. Bagi Sujud, itu adalah upaya paling realistis yang bisa dilakukan meski belum zero waste.Sujud menyebut masalah sampah belum sampai mengganggu industri perhotelan maupun restoran. Selama ini pengelola hotel dan wisata tetap menjaga area penyimpanan sampah agar rapi untuk menjaga kenyamanan pengunjung.