Regional 29 Mei 2026 13:38 WIB Makassar Editor - Charnila Kandi Ketua PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga. Foto: RRI/Qiswa RRI.CO.ID, Makassar - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga mengeluhkan kondisi eonomi dengan melemahnya rupiah saat ini. Anggiat mengatakan secara teori penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah seharusnya membuka peluang lebih besar bagi sektor pariwisata Indonesia.Dengan kurs dolar yang semakin kuat, wisatawan mancanegara dinilai bisa menikmati perjalanan di Indonesia dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan negara lain, sehingga destinasi wisata nasional menjadi lebih kompetitif di mata turis asing.Menurut kondisi tersebut pada dasarnya memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia karena wisatawan asing hanya perlu mengeluarkan dolar dalam jumlah relatif kecil untuk menikmati berbagai layanan wisata, mulai dari hotel, transportasi, hingga kuliner. Situasi ini seharusnya mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai daerah tujuan wisata."Secara teori bahwa dollar yang makin ganas akan memberi peluang bahwa wisatawan mancanegara akan lebih bergerak karena dengan dollar yang relatif sedikit, Indonesia bisa mereka jelajahi dengan mudahnya karena semuanya lebih murah dibanding dengan dollar mereka,"kata Anggiat, Jumat, 29 Mei 2026.Namun demikian, Anggiat menilai kondisi di lapangan tidak sesederhana teori ekonomi tersebut. Ia menegaskan pelemahan ekonomi global saat ini justru membuat masyarakat dunia lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk perjalanan wisata. Ketidakpastian ekonomi di banyak negara membuat minat bepergian, baik untuk liburan maupun perjalanan bisnis, ikut mengalami tekanan.Di sisi lain, penguatan dolar juga membawa dampak negatif yang cukup besar bagi industri pariwisata nasional. Salah satu yang paling dirasakan adalah kenaikan harga avtur yang terus melonjak seiring menguatnya mata uang Amerika Serikat. Kenaikan biaya bahan bakar pesawat itu secara langsung memicu melambungnya harga tiket penerbangan domestik maupun internasional.Akibatnya, masyarakat kini semakin terbatas untuk melakukan perjalanan wisata domestik. Harga tiket pesawat yang semakin mahal membuat banyak keluarga menunda rencana liburan karena anggaran perjalanan membengkak drastis. "Kondisi ekonomi global juga lagi susah dan efek negatifnya dollar semakin ganas harga avtur juga makin ganas hingga harga tiket pesawat melambung tinggi membuat semakin terbatas orang lakukan perjalanan wisata domestik dan perjalanan dinas mengingat harga tiket makin mahal,"jelasnya.Anggiat menyebut industri perhotelan dan restoran menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat situasi tersebut. Menurutnya, penurunan jumlah perjalanan wisatawan domestik membuat tingkat hunian hotel mengalami penurunan signifikan di berbagai daerah wisata. Banyak pelaku usaha kini menghadapi tekanan berat untuk mempertahankan operasional bisnis mereka.Tidak hanya itu, kenaikan dolar juga membuat harga bahan baku impor, terutama daging impor, mengalami lonjakan tajam. Kondisi ini membuat margin keuntungan hotel dan restoran semakin tergerus karena biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat justru melemah. Pelaku usaha terpaksa menghadapi dilema antara menaikkan harga menu atau menanggung beban biaya yang lebih besar."Sudah occupancy drop pasca program efisiensi di perarah lagi harga tiket makin tingga membuat semakin parah tingkat huni. Ibarat peribahasa sudah jatuh tertimpa dumtruck lagi, bukan di timpa tangga tapi sudah dengan dumtruck,"keluhanya. Berita Terbaru Memuat berita terbaru.....