Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

​Rupiah Anjlok, Pariwisata Indonesia Bidik Turis Negara Tetangga

Foto grafis ilustrasi dibuat AI. ​MAKLUMAT– Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melihat celah keuntungan di balik merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. PHRI menilai situasi ini menjadi momentum emas untuk menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), terutama dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. ​Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran menjelaskan pelemahan rupiah secara otomatis meningkatkan daya beli turis asing. Pasalnya, biaya berlibur di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi mereka. Meski begitu, dampak lonjakan kunjungan ini belum terlihat secara instan. ​”Kami belum melihat dampak langsungnya terhadap angka kunjungan wisman saat ini. Namun, potensinya jelas sangat besar,” ujar Maulana dikutip, Senin (1/6/2026) malam ​Siasat Menghindari Hub Timur Tengah ​Selain faktor kurs, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mengubah peta perjalanan global. Konflik yang berlarut-larut berpotensi mengacaukan jalur penerbangan internasional serta mobilitas wisman yang biasa menggunakan kawasan tersebut sebagai hub atau destinasi transit. ​Melihat kondisi tersebut, Maulana mendorong pelaku industri pariwisata nasional untuk mengubah haluan radar promosi. Indonesia harus lebih gencar menggaet pasar dari negara tetangga yang memiliki akses penerbangan langsung tanpa perlu melewati jalur Timur Tengah. ​Tantangan Tiket Pesawat Mahal ​Namun, langkah memaksimalkan momentum ini bukan tanpa ganjalan. Industri pariwisata kini menghadapi tembok tebal berupa lonjakan harga avtur yang otomatis melambungkan harga tiket pesawat. ​Bagi Indonesia yang berstatus negara kepulauan, transportasi udara adalah urat nadi utama mobilitas wisatawan. Jika harga tiket terus mencekik, daya tarik murahnya kurs rupiah bisa tereduksi. ​Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), performa pariwisata awal tahun 2026 sebenarnya cukup menjanjikan. Sepanjang Januari–Maret 2026, total kunjungan wisman menembus angka 3,44 juta, tumbuh 8,62% jika kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. ​Pelemahan rupiah bak pisau bermata dua bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, sektor manufaktur menjerit karena biaya impor bahan baku membengkak. Namun di sisi lain, sektor pariwisata mendapatkan durian runtuh berupa competitive advantage dari segi harga. Indonesia mendadak menjadi destinasi “diskon” bagi turis asing. ​Strategi PHRI untuk mengalihkan fokus ke pasar regional (negara tetangga) adalah langkah taktis yang sangat logis. Ketika koridor penerbangan jarak jauh terganggu oleh tensi geopolitik Timur Tengah, pasar jarak pendek (short-haul market) seperti Malaysia, Singapura, dan Australia menjadi penyelamat paling realistis.