Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Efisiensi Anggaran Mengguncang Perhotelan Sumsel, Pelaku Usaha Cari Nafas Baru

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, Sholahuddin Arsyad, mengatakan tekanan yang dirasakan pelaku usaha hotel pada 2026 bahkan lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya saat pemangkasan anggaran mulai diterapkan.Menurutnya, kegiatan rapat, seminar, hingga perjalanan dinas yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan hotel terus mengalami penurunan."Kalau sebelumnya ada sekitar 15 kegiatan lalu turun menjadi 10, sekarang bisa tinggal tujuh, lima, bahkan hanya tiga kegiatan. Sementara kegiatan yang sedikit itu diperebutkan oleh seluruh hotel," katanya.Baca Juga: Bawa Sabu 102 Gram, Dua Anak Buah Bandar Narkoba di Muba Dibekuk PolisiSituasi tersebut membuat banyak pengelola hotel mengubah strategi bisnis. Jika sebelumnya berorientasi pada pengembangan usaha dan investasi, kini fokus utama adalah menjaga operasional agar tetap berjalan."Hotel sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan hidup. Untuk ekspansi atau investasi tentu belum menjadi prioritas karena kondisi pasar masih belum stabil," ujarnya.Tidak hanya kehilangan pasar dari sektor pemerintah, industri perhotelan juga belum mendapatkan dorongan signifikan dari sektor swasta. Menurut Sholahuddin, banyak perusahaan masih memilih menahan ekspansi usaha sehingga aktivitas pertemuan maupun kegiatan bisnis belum kembali normal.Padahal, industri hotel sangat bergantung pada momentum tertentu untuk mendongkrak pendapatan. Musim ramai biasanya terjadi pada periode Juni hingga Oktober, serta saat libur Natal, Tahun Baru, dan Lebaran.Pendapatan yang diperoleh saat musim ramai tersebut selama ini menjadi penopang operasional hotel ketika memasuki masa sepi kunjungan.Melihat kondisi tersebut, PHRI Sumsel mendorong pemerintah daerah lebih agresif mendatangkan agenda Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) ke Sumatera Selatan.Sholahuddin menilai Palembang memiliki modal kuat untuk menjadi tuan rumah berbagai kegiatan nasional. Selain didukung fasilitas hotel yang memadai, Sumsel juga memiliki kompleks olahraga berstandar internasional yang dapat dimanfaatkan untuk penyelenggaraan kejuaraan maupun event berskala besar."Kita memiliki fasilitas olahraga yang sangat baik. Jika lebih banyak event nasional atau kejuaraan digelar di Sumsel, dampaknya akan langsung dirasakan oleh hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku UMKM," katanya.Selain pasar domestik, PHRI juga melihat peluang dari sektor wisata mancanegara. Salah satunya dengan menjalin kerja sama bersama maskapai internasional untuk mendatangkan wisatawan asing ke Sumsel.Destinasi wisata seperti Pagaralam dan Danau Ranau dinilai memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan luar negeri apabila didukung promosi dan akses transportasi yang memadai.Menurut Sholahuddin, seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama mencari solusi agar pergerakan wisatawan dan kegiatan ekonomi di Sumsel kembali meningkat."Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar seremoni, tetapi bagaimana mendatangkan orang ke Sumsel. Jika kunjungan meningkat, maka hotel, restoran, transportasi, dan sektor usaha lainnya juga akan ikut bergerak," tutupnya.