Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memasuki liburan sekolah, okupansi dan reservasi hotel di DIY mengalami peningkatan. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, rata-rata okupansi hotel di DIY pada periode 16 hingga 22 Juni 2026 mencapai 70 persen. Sementara reservasi pada periode 26 Juni hinga 14 Juli sekitar 40 hingga 50 persen. Meski okupansi hotel di DIY tinggi, Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyebut pendapatan hotel tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Biaya operasional yang membengkak salah satunya karena adanya pemadaman listrik bergilir di DIY. "Namun okupansi yang cukup baik ini belum bisa dikatakan baik untuk revenue kita, karena biaya operasional naik cukup tinggi dengan harga-harga atau biaya yang bersinggungan dengan operasional yang naik. Pemadaman PLN kurang lebih tiga jam juga memengaruhi, karena genset nyala," katanya, Selasa (23/6/2026). Baca juga: Massa Aliansi BEM DIY Gelar Aksi di Gedung DPRD DIY, Suarakan Sembilan Tuntutan Ia menerangkan memang ada peningkatan okupansi sekitar 15 hingga 20 persen. Namun biaya operasional hotel juga meningkat, diperkirakan sekitar 20 hingga 25 persen. Selain untuk membeli bahan bakar genset, biaya perawatan alat elektronik juga meningkat. Sebab ketidakstabilan jaringan listrik menyebabkan alat elektronik seperti TV, AC, komputer mengalami kerusakan. "Listrik yang naik turun menyebabkan kerusakan elektronik fasilitas hotel biaya lagi untuk memperbaiki. Ada beberapa yang mengalami hal itu karena tegangan listrik tidak stabil, TV, AC, komputer, rata-rata itu," terangnya. Kendati ada kenaikan biaya operasional, PHRI DIY tidak menaikkan tarif hotel. Alasannya, daya beli masyarakat turun. "Kita tidak bisa menyesuaikan harga kamar karena daya beli masyarakat yang turun. Kita saat ini bertahan saja sudah cukup baik," pungkasnya. (*)