Jogja - Okupansi hotel di Jogja selama Juni mengalami peningkatan hingga 20 persen dari biasanya. Kendati begitu, kondisi ini ternyata tidak serta merta meningkatkan jumlah keuntungan pengusaha hotel.Sebaliknya, sejumlah pengusaha hotel yang bernaung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) justru mengaku keuntungan menurun meski okupansi hotel meningkat.Hal ini sebagaimana diungkapkan Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo. Deddy menyampaikan, hotel-hotel mengalami peningkatan keterisian hingga 70 persen saat Juni ini. Meningkat 20 persen dibandingkan hari biasa maupun periode libur sekolah sebelumnya."Kalau reservasi, data kita dari 17 Juni sampai dengan 25 Juni itu rata-rata 70 persen. Baik hotel bintang maupun nonbintang anggota kami di DIY. Masih didominasi wilayah tengah kota (Kota Jogja) dan juga Sleman," terang Deddy saat dihubungi detikJogja, Kamis (25/6/2026).Kenaikan Biaya OperasionalDeddy mengungkap, meski ada kenaikan okupansi sebesar 20 persen, kondisi ini dibarengi dengan melonjaknya biaya operasional yang harus ditanggung hotel."70 persen itu belum berarti kondisi baik-baik saja. Peningkatan okupansi juga diiringi kenaikan biaya operasional. Bahan baku naik, servis AC naik, sekarang semuanya naik," bebernya.Deddy menuturkan biaya operasional naik antara 15-25 persen. Pengusaha hotel juga tidak berani menaikkan harga kamar, karena daya beli masyarakat dinilai masih lemah."Kami tidak bisa menyesuaikan harga kamar dengan biaya operasional. Mengapa? Karena daya beli masyarakat sekarang turun. Jadi anggota PHRI saat ini hanya sekadar bertahan," katanya.Tarif Kamar Tidak BerubahDeddy mengatakan, para pengusaha memilih tidak menaikkan tarif kamar. Pertimbangannya, jika hal itu dilakukan dikhawatirkan tamu bakal tergerus jumlahnya."Ada peningkatan biaya operasional, tapi kami belum berani menaikkan harga. Daripada tidak ada tamu, akhirnya ini hanya cukup untuk bertahan. Dari segi okupansi naik, tapi dari segi revenue kami turun," ungkapnya.Dampak Gangguan ListrikPermasalahan lain yang turut terjadi dan berdampak pada menurunnya keuntungan yakni dampak gangguan listrik yang terjadi. Deddy menuturkan gangguan listrik yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan sejumlah peralatan mengalami kerusakan."Dampaknya menambah biaya operasional. Kita beli solar, Pertadex. Itu kan menambah biaya," katanya."Ada sekitar empat sampai lima hotel yang melapor mengalami kerusakan barang elektronik seperti water heater, TV, komputer, dan lain-lain. Itu kan memperbaikinya juga menambah cost," jelasnya.Untuk menekan pengeluaran, hotel melakukan langkah efisiensi energi. Namun, Deddy memastikan efisiensi tidak dilakukan dengan mengurangi kualitas pelayanan kepada tamu."Yang dilakukan misalnya mematikan lampu atau area yang tidak terpakai. Tapi kalau sampai menurunkan mutu layanan atau hospitality, kami tidak berani. Jangan sampai efisiensi malah merusak citra hotel," pungkasnya. Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026" (apl/apl)