wisatawan di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali. (Foto : Istimewa). Industri pariwisata Bali kian berdenyut seiring adanya peningkatan aktivitas wisatawan. Tingkat hunian hotel menunjukkan tren positif, meski pelaku industri tetap mewaspadai berbagai tantangan eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan wisatawan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, mengatakan tren puncak kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata pada Juni hingga Juli di tiap tahunnya. "Juni-Juli memang peak season. Biasanya okupansi naik antara 10-12%," ujarnya ketika dihubungi SWA.co.id di Denpasar, Bali, akhir pekan lalu. Menurut Cok Ace, peningkat tersebut seiring meningkatnya mobilitas wisatawan selama musim liburan. Kendati demikian, pelaku industri pariwisata Bali menghadapi berbagai tantangan. Misalnya, kenaikan harga avtur yang berdampak pada peningkatan harga tiket pesawat serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini dicermati pelaku pariwisata sebagai variabel yang dapat memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi membuat wisatawan mancanegara lebih mendominasi kunjungan ke Bali dibandingkan wisatawan domestik selama musim puncak tahun ini. Pelaku industri perjalanan terus berupaya menjaga daya tarik Bali melalui inovasi produk wisata. Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Bali, Putu Winastra, mengatakan pihaknya terus mendorong anggota untuk menghadirkan paket-paket wisata baru yang lebih sesuai dengan tren pasar saat ini. "Anggota Asita tetap membuat paket-paket baru untuk menarik wisatawan datang ke Bali. Utamanya paket yang lebih mengarah ke wellness, experience, dan immersion," ujarnya. Menurut Winastra, wisatawan saat ini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang lebih personal dan mendalam. Lantaran demikian, berbagai paket wisata itu dirancang untuk mengedepankan aktivitas kesehatan dan kebugaran, interaksi langsung dengan budaya lokal, serta pengalaman autentik yang memungkinkan wisatawan lebih menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan data hingga pertengahan Juni 2026, rata-rata tingkat hunian hotel mencapai 72,28%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada pada level 64,66%. Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, mengatakan pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi lonjakan wisatawan. "Periode Juni hingga Juli memang merupakan salah satu musim puncak kunjungan wisatawan ke Bali, baik dari pasar domestik maupun mancanegara. Kami optimistis Bali siap memberikan pengalaman berwisata yang aman, nyaman, berkualitas, dan berkelanjutan," katanya. Perlahan-lahan, tingkat okupansi hotel hingga villa di Bali semakin terlihat. Hotel Quest Vibe Dewi Sri Bali, misalnya, mencatat rata-rata tingkat hunian sekitar 55% pada Juni dan diproyeksikan meningkat menjadi 60% pada Juli tahun ini. Hotel Manager Quest Vibe Dewi Sri Bali, I Gusti Agung Ayu Widiastri, menjelaskan peningkatan tersebut didorong oleh musim liburan sekolah serta bertambahnya kunjungan wisatawan. Untuk memanfaatkan momentum ini, hotel menyiapkan berbagai program promosi, mulai dari paket liburan khusus, penguatan pemasaran digital, kerja sama dengan agen perjalanan dan mitra korporat, hingga paket menginap yang dipadukan dengan pengalaman wisata lokal. Selain itu, manajemen hotel ini berencana menghadirkan program kuliner baru bertajuk 60 Second to Tokyo mulai Juli 2026. Program ini merupakan bagian dari strategi menarik tamu ke Quest Vibe. Meski tingkat hunian hotel meningkat, sejumlah destinasi wisata di Bali justru menunjukkan pendekatan berbeda. Fokusnya tidak lagi semata mengejar jumlah kunjungan, melainkan kualitas pengalaman wisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Kepala Badan Usaha Desa Adat Penglipuran, Wayan Sumiarsa, menyampaikan keberhasilan sebuah destinasi tidak cukup diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. "Yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dan seberapa kuat budaya lokal tetap terjaga," ujarnya. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Desa Wisata Penglipuran menerima 308.444 kunjungan wisatawan. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir, namun sejalan dengan arah pengembangan pariwisata yang lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Pendekatan serupa juga diterapkan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih. Ketua DTW Jatiluwih, John K. Purna, mengatakan kawasan warisan budaya dunia Unesco ini dikembangkan lebih lanjut sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Jumlah kunjungan DTW Jatiluwih hingga Mei 2026 tercatat sekitar 91 ribu wisatawan atau turun 20-30% dibandingkan periode sebelumnya dan wisatawan asing masih mendominasi kunjungan ke kawasan tersebut. Menurut John, tren tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Bali tidak lagi hanya bertumpu pada volume wisatawan, tetapi juga pada kemampuan destinasi menghadirkan pengalaman yang autentik dan bernilai. Perkembangan tersebut mencerminkan wajah pariwisata Bali saat ini. Di satu sisi, musim puncak kunjungan masih menjadi motor pertumbuhan industri akomodasi dan layanan wisata. Di sisi lain, semakin banyak destinasi yang mulai menggeser fokus dari mengejar jumlah wisatawan menuju penciptaan nilai ekonomi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan kombinasi peningkatan okupansi hotel dan penguatan konsep quality tourism, pelaku bisnis wisata di Bali itu berupaya menjaga daya saingnya sebagai destinasi global di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku wisatawan. (*) Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.