Ringkasan Berita: Agenda haul di Solo masih menjadi penggerak utama wisata religi dan mampu membuat okupansi hotel mencapai 100 persen. Ketua PHRI Solo menyebut tarif kamar hotel saat haul dapat naik hingga lima kali lipat karena tingginya permintaan. PHRI berharap Pemkot Surakarta terus mengembangkan Solo sebagai kota budaya, batik, dan kuliner serta menghadirkan lebih banyak event dan destinasi wisata baru. Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anggorosani TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Gelaran haul di Kota Solo, Jawa Tengah, masih menjadi magnet kuat bagi wisata religi sekaligus penggerak sektor perhotelan. Setiap agenda haul digelar, tingkat hunian hotel dapat mencapai 100 persen, bahkan tarif kamar melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan hari biasa. Baca juga: Ogah Pindah ke Pasar Jongke & Klewer? Eks Pedagang PGS Solo Minta Ekosistem Wisata Jadi Pertimbangan Ketua PHRI Kota Solo, Joko Sutrisno, mengatakan agenda haul menjadi salah satu kegiatan tahunan yang paling berdampak terhadap industri perhotelan di Kota Bengawan. Menurutnya, ribuan peziarah dan wisatawan religi dari berbagai daerah datang ke Solo saat pelaksanaan haul sehingga kebutuhan kamar hotel meningkat drastis. "Bisa 100 persen, bahkan rate hotel bisa 5 kali lipat harganya," katanya saat ditemui di Hotel Minoa Solo, Kamis (6/8/2026). Event Lain Tak Seberdampak Haul Selain haul, berbagai kegiatan lain yang digelar di Solo juga memberikan dampak terhadap okupansi hotel. Namun, peningkatannya tidak sebesar wisata religi. Joko menyebut berbagai event di Solo rata-rata hanya mampu menaikkan tingkat hunian hotel sekitar 20 hingga 40 persen. Baca juga: Kisah Dramatis Sopir Ambulans Tembus Haul Solo Demi Antar Pasien, Minta Bantuan Jemaah Buka Jalan Meski demikian, ia menilai penyelenggaraan agenda pariwisata di Solo sudah berjalan cukup baik karena mampu menarik wisatawan dari luar Solo Raya. Ke depan, PHRI berharap Pemerintah Kota Surakarta terus mengembangkan potensi Solo sebagai kota budaya, batik, dan kuliner agar kunjungan wisatawan terus meningkat. Joko juga mendorong pemerintah daerah lebih responsif dalam menghadirkan destinasi wisata baru serta mengembangkan pusat-pusat kuliner sebagai daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Solo. "Harapannya Pemkot juga bisa berkolaborasi dengan EO untuk menciptakan event-event baru untuk menarik wisatawan," ungkapnya.