Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Long Weekend Belum Dongkrak Okupansi Hotel di Lampung, PHRI Ungkap Penyebabnya

Ringkasan Berita: Long weekend berpotensi menaikkan okupansi hotel di Lampung, tetapi dampaknya belum tentu signifikan. PHRI Lampung menyebut cuaca dan kesesuaian libur sekolah dengan cuti orang tua turut memengaruhi. Peak season seperti Lebaran, libur sekolah, akhir tahun, serta Nataru lebih konsisten mendongkrak okupansi. Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Momen long weekend berpotensi meningkatkan tingkat hunian atau okupansi hotel di Lampung. Baca juga: 203 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Mesuji dan Way Kanan Jadi Wilayah Paling Rawan Namun, kenaikannya belum tentu signifikan karena dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga kesesuaian jadwal libur sekolah dengan cuti orangtua. Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Lampung, Friandi Indrawan, mengatakan long weekend memang dapat memberikan dampak terhadap okupansi hotel. Namun, pengaruhnya cenderung tidak sebesar periode peak season. "Periode long weekend memang berpotensi meningkatkan okupansi, tetapi tidak selalu terjadi. Hal ini bergantung pada faktor-faktor lain, seperti cuaca yang kurang baik atau masa libur sekolah yang tidak bersamaan dengan jadwal cuti orangtua," kata Friandi, Senin (24/8/2026). Menurut Friandi, terdapat sejumlah periode yang hampir selalu berdampak terhadap peningkatan okupansi hotel.  Di antaranya libur Lebaran, libur sekolah, akhir tahun, serta Natal dan Tahun Baru (Nataru). "Dalam industri perhotelan, terdapat beberapa momen besar atau peak season yang hampir dipastikan berdampak pada peningkatan okupansi, antara lain liburan Lebaran, libur sekolah, akhir tahun, serta Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, long weekend tetap memberikan dampak, namun tidak terlalu signifikan," ujarnya. Kondisi tersebut, kata Friandi, menjadi tantangan bagi pelaku industri pariwisata di Lampung, terutama dalam mendorong kunjungan wisatawan untuk kebutuhan rekreasi atau leisure. Ia menilai Lampung memiliki potensi pariwisata yang besar. Namun, sebagian potensi tersebut belum dikembangkan menjadi produk wisata yang matang dan memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan. "Lampung memiliki potensi yang sangat besar, tetapi sebagian besar potensi tersebut belum dikembangkan menjadi produk pariwisata yang matang. Jika masih sebatas potensi, hal itu belum memiliki daya tarik yang kuat," katanya. Friandi menjelaskan, pengembangan potensi tersebut menjadi produk wisata yang siap ditawarkan dapat meningkatkan daya tarik Lampung, baik bagi wisatawan lokal, domestik, maupun mancanegara. "Namun, jika potensi tersebut telah dikemas menjadi produk pariwisata, tentu akan sangat menarik bagi calon wisatawan, baik lokal, domestik, maupun mancanegara," lanjutnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mengembangkan sektor pariwisata Lampung. Menurutnya, proses mengubah potensi menjadi produk wisata membutuhkan sejumlah tahapan dan faktor yang harus dikerjakan secara bersama-sama. "Inilah tugas kita bersama. Mengubah potensi menjadi produk memerlukan banyak langkah dan faktor yang harus dikerjakan secara bersama-sama," pungkas Friandi. (Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)