KLIKNUSAE.com – Kota Cirebon bersiap menggelar sebuah perhelatan seni berskala internasional. Namanya, International Mask Festival: Tari Topeng. Event ini dijadwalkan berlangsung pada November 2026, dengan memproyeksikan lebih dari 10.000 wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Ketua BPC PHRI Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki, mengatakan persiapan event tersebut tengah dikebut. Festival ini akan mengangkat kesenian tari topeng sekaligus mempertemukan seniman dari sejumlah negara. “Iya, kami sedang mempersiapkan sebuah event kesenian Tari Topeng yang akan digelar pada November 2026 mendatang,” kata Imam Reza Hakiki, yang akrab disapa Kiki, ketika dihubungi Nusae, Kamis, 10 September 2026. Menurut Kiki, International Mask Festival tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni. Festival ini dirancang sebagai perhelatan internasional dengan melibatkan peserta dari sejumlah negara. Tiga Negara Hingga saat ini, tiga negara telah memastikan keikutsertaannya, yakni Korea Selatan, Singapura, dan Myanmar. Sementara itu para peserta dari negara-negara tersebut nantinya akan tampil membawakan seni tari topeng dalam festival di Cirebon. “Sampai saat ini sudah ada tiga negara yang konfirmasi akan ikut. Mereka adalah Korea Selatan, Singapura dan Myanmar,” ujar Kiki. Sejumlah negara lain juga tengah dijajaki. Thailand dan Kamboja diperkirakan menyusul memberikan kepastian dalam beberapa pekan ke depan. Ketua BPD PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi ketika memberikan pemaparan pada Rakorwil III PHRI Cirebon. (Foto: Kliknusae.com/Adhi) Besarnya skala kegiatan membuat festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seni dan budaya. Pergerakan ribuan wisatawan berpotensi memberikan efek berantai bagi industri pariwisata Cirebon, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku usaha masyarakat. Sedangkan Ketua BPD PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, mengatakan penyelenggaraan event berskala besar. Terutama yang memiliki daya tarik internasional, dapat menjadi salah satu cara untuk menggerakkan kembali aktivitas pariwisata. Aktivitas Pariwisata Menurut Dodi, event semacam itu mampu menciptakan alasan baru bagi wisatawan untuk datang dan tinggal lebih lama di suatu daerah. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha pariwisata. “Penyelenggaraan kegiatan berskala besar seperti event internasional dapat menjadi salah satu cara efektif untuk menggerakkan kembali aktivitas pariwisata,” kata Dodi. Ia berharap kegiatan tersebut mampu mendorong peningkatan tingkat kunjungan ke hotel dan restoran. Sekaligus memperluas dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kedatangan wisatawan. Namun, Dodi mengingatkan bahwa event besar perlu ditopang konektivitas antardaerah yang memadai. Wisatawan yang datang ke Cirebon, kata dia, seharusnya tidak hanya berhenti di satu destinasi. Konektivitas antardaerah penting untuk membangun pola perjalanan wisata yang lebih panjang. Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi dan berpotensi memperpanjang lama tinggal. Ekosistem Perjalanan Wisata “Pentingnya konektivitas antardaerah, sehingga dapat memperpanjang lama kunjungan wisatawan sekaligus memperbesar perputaran ekonomi di sektor hotel, restoran, transportasi, dan usaha masyarakat,” ujar Dodi. International Mask Festival pun berpeluang menjadi lebih dari sekadar pertunjukan tari. Jika dikemas sebagai bagian dari ekosistem perjalanan wisata, ribuan wisatawan yang datang dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan Cirebon. Yakni, sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Jawa Barat. November nanti, topeng bukan hanya dipakai untuk menari. Ia bisa menjadi magnet yang menarik wisatawan. Paling tidak kebutuhan akan kamar hotel, meja restoran, kendaraan wisata, dan transaksi ekonomi di berbagai sudut kota. ***