Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Wisatawan Domestik ke Bali Turun 15 Persen pada September, PHRI Soroti Tiket Pesawat Mahal

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali mencatat kinerja sektor pariwisata Bali pada semester pertama hingga kuartal ketiga tahun 2026 secara umum masih terjaga stabil. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) berhasil menopang industri pariwisata daerah, di tengah penurunan kunjungan wisatawan domestik (wisdom) pada bulan September. Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menyampaikan bahwa pascapandemi COVID-19, pertumbuhan pariwisata Bali menunjukkan tren yang sangat pesat. Pada akhir tahun 2025, Bali mencatatkan rekor tertinggi kunjungan wisman sebanyak 7,05 juta jiwa, sementara kunjungan wisatawan domestik menembus angka 9,6 juta jiwa. Kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 66 persen. Suryawijaya menjelaskan bahwa tren positif tersebut terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2026. Baca juga: VIDEO Diduga Hipnotis Turis Aljazair di Ubud Gianyar Bali, WNA Ditangkap Polisi Tingkat hunian kamar (occupancy rate) hotel di Bali tercatat berada pada level yang memuaskan. "Untuk 2026, kunjungan wisatawan juga masih stabil sangat bagus sekali, khususnya international tourist. Dari Januari sampai bulan Juni semester 1 2026, tingkat hunian rata-rata regional occupancy Bali mencapai 70 persen sampai 73 % . Hal ini sangat-sangat bagus sekali," ujar Rai Suryawijaya pada, Rabu 30 September 2026.  Ia menambahkan, lonjakan signifikan terjadi saat memasuki puncak musim liburan (high season). "Dan mulai bulan Juli dan Agustus mulai meningkat dengan baik, sehingga tingkat hunian rata-rata mencapai 80 % sampai 90 % , itu sangat luar biasa," tuturnya. Meski demikian, pihak PHRI Bali mengonfirmasi adanya penurunan pada segmen wisatawan domestik pada bulan September 2026 yang mencapai hingga 15 persen. Suryawijaya membeberkan tiga faktor utama yang memicu penurunan tersebut, yakni melambungnya harga tiket pesawat, berkurangny aktivitas meeting (MICE) instansi pemerintah pusat di daerah, serta kondisi perekonomian nasional yang mengalami penurunan. Di sisi lain, Suryawijaya membantah isu yang menyebutkan bahwa angka kunjungan wisatawan secara keseluruhan mengalami penurunan drastis. Kunjungan wisman dinilai tetap kokoh berkat tingginya frekuensi penerbangan internasional ke Bali.